Jika Persaksian Hilal Ditolak dalam Sidang Itsbat

Satu kasus yang sering terjadi ketika pemutusan kapan berhari raya dan memulai puasa. Di sebagian tempat ternyata melihat hilal seperti yang sering terjadi di daerah Cakung, namun di daerah lain bahkan mayoritasnya tidak tampak. Bagaimana jika ada yang melihat hilal, apakah ia tetap boleh berpuasa atau berhari raya?.....

Kumpulan Fatwa Ramadhan untuk Muslimah: Qodho Puasa

1. Qodho (Mengganti) Puasa yang TertundaSoal:Beberapa tahun yang lalu saya berbuka pada hari-hari haid dan saya belum sempat mengqodhonya sampai sekarang. Padahal sudah beberapa tahun silam, dan (kini) saya ingin mengqodho tanggungan puasa saya, tetapi saya tidak ingat berapa hari yang haru saya bayar. Apa yang harus saya lakukan?Jawab:Wajib bagimu......

Indahnya Ramadhan Bersama Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan warna ketaatan. Selain ibadah puasa di siang hari, kaum muslimin dapat menikmati keindahan tadabbur dan tilawah al-Qur’an di malam hari. Dengan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an itulah ketenangan jiwa akan didapatkan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah, bahwa dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang.....

Shalawat Para Malaikat Bagi Orang yang Makan Sahur

Oleh Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi Di antara orang-orang yang berbahagia dengan shalawat para Malaikat adalah orang yang makan sahur, dan di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah: 1. Dua Imam, yaitu Imam Ibnu Hibban dan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:....

Keberkahan Makan Sahur

Oleh Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i DEFINISI (السَّحُوْرُ), adalah dengan memfat-hahkan siin yaitu untuk sesuatu yang dipakai bersahur [1] berupa suatu makanan atau minuman, dan dengan mendhammahkan, yaitu sebagai masdar (asal kata) dan untuk kata kerjanya pun seperti itu pula.[2] Ibnul Atsir berkata, “Yang lebih banyak....

Tampilkan postingan dengan label Al-Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Masail. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2011

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Teraniaya (2)

Oleh
Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi


Mencela dan melecehkan para sahabat dengan penghinaan dan tuduhan ngawur merupakan cara-cara pengikut iblis dan musuh-musuh Islam. Mereka, sebenarnya bertujuan mencela dan merendahkan para saksi kebenaran Islam, dan hendak mencela Rasulullah. Yaitu dengan menyatakan, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sahabat-sahabat yang jelek dan tidak memilih sahabat yang baik saja. Dengan cara ini, mereka ingin menghancurkan dan memadamkan cahaya Islam. Akan tetapi, mereka tidak akan mampu. Allah tidak ingin cahaya agamaNya padam, bahkan Allah menyempurnakan cahaya agamaNya, meskipun kaum kafir pengikut iblis tidak suka dan marah.

Mereka hendak memadamkan sunnah Rasulullah dengan slogan-slogan yang seakan rahmat dan ilmiyah, namun hakikatnya menyimpan dendam, penipuan besar dan pandir. Misalnya dengan mengusung istilah “studi kritis hadits”, “studi ilmiah dan kebebasan berpendapat”. Ini semua hanyalah tipuan belaka dan fatamorgana. Tujuannya satu, yaitu menghancurkan Islam dengan segala cara. Oleh sebab itu, wahai kaum muslimin. Berhati-hatilah terhadap racun yang ditebarkan dimana-mana untuk merusak aqidah dan syariat kita.

Diantara sahabat yang menjadi sasaran mereka adalah perawi yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu . Dalam makalah singkat ini, kami berusaha mengungkap beberapa tuduhan yang dilontarkan musuh Islam.

kepada Abu Hurairah, yang merupakan tokoh besar dalam periwayatan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berusaha membantah dan membedahnya dengan tetap memohon kemudahan dan petunjuk Allah.

Berikut beberapa tuduhan dan kecaman para musuh Islam yang dilontarkan secara zhalim atas diri Abu Hurairah.

6. Mereka menyatakan:
Karena seringnya ia meriwayatkan hadits, Ummul Mukminin ‘A’isyah dan para sahabat yang utama menuduhnya sebagai berbicara tak keruan (mazzah), berbohong (kadzdzab) dan lain-lain. Umar mengancam akan memukul dan mengasingkannya apabila ia meriwayatkan mengucapkan sebuah hadits di zaman Umar. Ummul Mukminin ‘Aisyah mengatakan bahwa ia tidak pernah mendengar Rasul bercerita seperti yang disampaikan Abu Hurairah. ‘Ali menamakannya pembohong umat. Demikian juga tokoh-tokoh yang terdahulu.[36]

Mereka juga menyatakan:
Hadits-hadits yang disampaikan Abu Hurairah, menurut Abu Muhammad bin Hazm berjumlah 5.374 buah. Bila dibandingkan dengan seluruh hadits yang disampaikan oleh keempat Khulafa’ur- Rasyidin, jumlah ini sangat banyak. Abu Bakar, misalnya, menyampaikan 142 hadits (yang dimasukkan dalam Bukhari, 22), ‘Umar 537 hadits (yang dianggap shahih, 50), ‘Utsman 146 (Bukhari memasukkan 9 hadits, Muslim 5), dan ‘Ali 586 hadits (yang diangap shahih, 50); semuanya hanya 1.411 hadits dan itu berarti cuma 21 % dari jumlah hadits yang disampaikan Abu Hurairah seorang diri. Dan jumlah ini hampir sama dengan jumlah ayatayat Al Qur’an.

Sebagai perbandingan, maka seluruh hadits yang disampaikan Abu Bakar selama 20 tahun pergaulannya dengan Rasul, hanya diperoleh Abu Hurairah dalam 16,7 hari duduk di Shuffah setelah ia menganut Islam, ‘Umar dalam 63,1 hari, ‘Utsman dalam 17,1 hari, ‘Ali dalam 68,9 hari, Thalhah bin ‘Ubaidilah dalam 4,4 hari, Salman al-Farisi dalam 7 hari. Zubair bin al Awaam dalam 1,1 hari, ‘Abdul Rahman bin ‘Auf dalam 1 hari. Dan seluruh haditsnya baru diucapkannya hampir 30 tahun sesudah Rasul Allah SAW wafat, sebagaimana pengakuannya, karena sekembalinya dari Bahrain dia tidak diperkenankan mengobral haditsnya. [37]

Tanggapan:
Apakah benar para sahabat utama menuduh Abu Hurairah berdusta sebagaimana anggapan di atas. Sungguh, semua itu tidak benar. Sebab para sahabat besar seperti Abu Bakar, ‘Umar dan lain-lainnya memberikan pengakuan dan menerima hadits Abu Hurairah.[38] Sedangkan riwayat mereka tentang tuduhan Abu Hurairah telah berdusta berasal dari riwayat Al Nadzam atau Bisyr Al Mirrisi atau Abu Ja’far Al Iskafi yang merupakan musuh besar, penentang Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Adapun yang dinisbatkan kepada ‘Umar bahwa beliau mengancam akan memukul dan mengasingkan Abu Hurairah apabila ia meriwayatkan hadits, ini diambil dari kitab lbnu ‘Asakir, bahwa Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu : “Engkau akan sungguh-sungguh tidak meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau aku pulangkan anda ke negeri Daus?” Dan kitab Ibnu ‘Asakir termasuk yang banyak memuat hadits-hadits dhaif (lemah), bahkan maudhu’ (palsu). Jika benar pernyataan tersebut, dapat difahami, bahwa kekhawatiran Umar Radhiyallahu ‘anhu itu ialah terhadap hadits-hadits yang terkadang dibuat oleh orang (yang diletakkan) bukan pada tempatnya, disebabkan mereka banyak membicarakan hadits-hadits yang mengandung masalah rukhsah (keringanan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), juga karena (dikhawatirkan) jika seseorang memperbanyak meriwayatkan hadits memungkinkannya terjadi kesalahan atau kekeliruan, lalu orang-orang meriwayatkannya atau yang semisalnya.[39]

Namun, tampaknya zhahir kisah ini menunjukkan, bila hadits ini merupakan kepalsuan yang dilakukan oleh Rafidhah yang ingin menampakkan kesan kebencian Umar Radhiyallahu ‘anhu kepada hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian pernyataan Umar Radhiyallahu ‘anhu sendiri menjadi bukti yang menunjukkan adanya kontradiksi isi kandungannya. Artinya, ancaman Umar Radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dengan mengasingkannya ke negeri Daus tanah airnya tidaklah perlu, sebab pengasingan itu tidak tepat. Juga, periwayatan hadits-hadits tidak membutuhkan nasihat Umar Radhiyallahu ‘anhu, jika dimaksudkan untuk menjaga hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bila yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu itu tidak shahih, tidak benar pula Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menghindari daerah Daus, sebuah negeri yang juga dapat melindunginya? Jika haditshadits Abu Hunairah Radhiyallahu ‘anhu itu tidak shahih menurut pandangan Umar Radhiyallahu ‘anhu, niscaya ia akan secepatnya memotong lisan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dan tidak perlu mengasingkannya ke negeri kaumnya atau ke daerah lainnya.[40]

Terdapat juga kisah ‘Umar menerima persaksian dan riwayat Abu Hurairah. Diantaranya kisah yang diriwayatkan Imam Al Bukhari rahimahullah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

لَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْوَشْمِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُمْتُ فَقُلْتُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَنَا سَمِعْتُ قَالَ مَا سَمِعْتَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَشِمْنَ وَلَا تَسْتَوْشِمْنَ

Umar mendatangi seorang wanita yang bertato, lalu ia berdiri seraya berkata,”Bersumpahlah kalian dengan nama Allah. Siapakah diantara kalian yang mendengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tato?” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Akupun bangkit dan berdiri, seraya berkata,”Saya mendengarnya, wahai Amirul Mukminin.” Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya, ”Bagaimana yang engkau dengar?” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menjawab, ”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian bertato dan meminta untuk ditato.”[41]

Ini semua merupakan bantahan langsung dari perbuatan ‘Umar atas berita bohong yang dinisbatkan kepadanya.

Demikian juga kisah ‘Aisyah yang disebutkan dalam tuduhan mereka di atas adalah pernyataan beliau.

أَلَا يُعْجِبُكَ أَبُو هُرَيْرَةَ جَاءَ فَجَلَسَ إِلَى جَانِبِ حُجْرَتِي يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْمِعُنِي ذَلِكَ وَكُنْتُ أُسَبِّحُ فَقَامَ قَبْلَ أَنْ أَقْضِيَ سُبْحَتِي وَلَوْ أَدْرَكْتُهُ لَرَدَدْتُ عَلَيْهِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَسْرُدُ الْحَدِيثَ مِثْلَ سَرْدِكُمْ

Tidakkah Abu Hurairah membuatmu heran (wahai Urwah), ia datang lalu duduk di samping kamarku menyampaikan hadits dari Rasulullah,memperdengarkannya kepadaku dan aku sedang shalat sunnah, lalu ia pergi sebelum aku menyelesaikan shalat sunnahku. Seandainya aku mendapatinya, tentu aku akan membantahnya.Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyampaikan hadits seperti yang kalian sampaikan. [42]

Inilah sebab pengingkarannya, Aisyah Radhiyallahu ‘anha tidak melemahkannya dan tidak juga menuduhnya sebagai pendusta sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian penuduhnya. Sekalipun demikian, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha tetap mengakui, bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meninggalkan tempat sebelum ia selesai dari shalatnya. Padahal waktu shalat bukanlah waktu yang lama.

Adapun pernyataannya “Seandainya aku mendapatinya, tentu aku akan membantahnya,” yakni niscaya aku akan menegurnya dan menjelaskan, bahwa pelan dalam menyampaikan hadits itu lebih baik daripada memaparkannya secara cepat.[43] Perkataan Aisyah Radhiyallahu ‘anha “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyampaikan hadits seperti yang kalian sampaikan,” yaitu menyampaikan hadits dengan pelan dan tersusun rapi, berurutan (menyelesaikan yang satu, kemudian baru yang lainnya), agar tidak bercampur bagi yang mendengarnya.

Dalam pernyataan ‘Aisyah tersebut, tidak ada yang menunjukkan bila ia menolak hadits Abu Hurairah atau menuduhnya telah berdusta atas nama Nabi, atau membuat-buat hadits palsu. Bahkan ‘Aisyah menerima dan membenarkan periwayatan Abu Hurairah sebagaimana dalam hadits Khabab yang bertanya kepada Ibnu Umar:

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَلَا تَسْمَعُ مَا يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ خَرَجَ مَعَ جَنَازَةٍ مِنْ بَيْتِهَا وَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ تَبِعَهَا حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ مِنْ أَجْرٍ كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُحُدٍ فَأَرْسَلَ ابْنُ عُمَرَ خَبَّابًا إِلَى عَائِشَةَ يَسْأَلُهَا عَنْ قَوْلِ أَبِي هُرَيْرَةَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ فَيُخْبِرُهُ مَا قَالَتْ وَأَخَذَ ابْنُ عُمَرَ قَبْضَةً مِنْ حَصْبَاءِ الْمَسْجِدِ يُقَلِّبُهَا فِي يَدِهِ حَتَّى رَجَعَ إِلَيْهِ الرَّسُولُ فَقَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ صَدَقَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَضَرَبَ ابْنُ عُمَرَ بِالْحَصَى الَّذِي كَانَ فِي يَدِهِ الْأَرْضَ ثُمَّ قَالَ لَقَدْ فَرَّطْنَا فِي قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ

Wahai, Abdullah bin Umar. Tidakkah engkau mendengar yang disampaikan Abu Hurairah, bahwaia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang keluar bersama jenazah dari rumahnya dan menshalatkannya, kemudian mengiringinya sampai dikubur, maka ia mendapat pahala dua qirath. Setiap qirath seperti Gunung Uhud. Barangsiapa yang menshalatkan jenazah kemudian pulang, maka mendapat pahala seperti Gunung Uhud”. Lalu Ibnu Umar mengutus Khabab kepada ‘Aisyah untuk menanyakan perkataan Abu Hurairah tersebut, kemudian kembali kepadanya memberitahukan pernyataan ‘Aisyah. Lalu Ibnu Umar mengambil segenggam krikil masjid yang ia bolak-balikkan di tangannya sampai datang utusannya tersebut. Lalu utusan itu berkata: ‘Aisyah berkata, ”Benar Abu Hurairah.” Lalu Ibnu Umar membuang kerikil-kerikil yang ada di tangannya ke tanah, kemudian berkata: “Kita telah kehilangan banyak qirath.”[44]

Sedangkan pernyataan Imam ‘Ali yang mereka kemukakan di atas merupakan kedustaan, sebagaimana disampaikan penulis kitab Difa’ ‘An Abu Hurairah: Tidak ada referensi yang valid dan terpercaya yang menunjukkan adanya pernyataan menyakinkan, bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu menuduh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu telah berdusta, atau melarangnya meriwayatkan hadits. Akan tetapi, sebagian musuh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berusaha berargumen dengan mengambil riwayat dari Abu Ja’far Al Iskafi, bahwa ketika mendengar hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, (maka) Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya sedusta-dusta orang…,” atau ia berkata: “Sedusta-dusta orang terhadap Rasulullah Radhiyallahu ‘anhu ialah Abu Hurairah Ad Dausi”

Riwayat ini adalah dhaif (lemah) dan tertolak. Sebab, jalur sanadnya dari Al Iskafi; ia seorang pengikut hawa nafsu, sekaligus menyeru orang mempertuhankan hawa nafsunya. Disamping itu, ia juga seorang rawi yang tidak tsiqah.[45]. Demikian ini merupakan dusta besar yang telah disingkap kebohongannya, berdasarkan kesepakatan sebagian besar putra, sahabat dan para panglima Ali Radhiyallahu ‘anhu, serta sejumlah tokoh Syi’ah generasi awal dan anak keturunan Al Hasyimi tetap diam dan terus meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, atau meriwayatkan haditsnya melalui jalan periwayatan orang-orang terpercaya (tsiqat) jika mereka tidak mendengarnya langsung dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu .[46]

Seandainya ada peringatan dan pengingkaran para sahabat terhadap banyaknya riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , berarti ini menunjukkan kepada kita, bahwa mereka selalu mengutamakan kehati-hatian, ketelitian, kejelian dalam meriwayatkan dan menyandarkan cara periwayatannya. Mereka tidak memperbanyak (menyampaikan hadits), karena takut terjatuh pada kekeliruan.

Ketika Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu memaparkan yang didengarnya, tidak ada perasaan takut seperti mereka. Hal ini, karena kepercayaan Abu Hurairah terhadap hafalan serta daya ingatnya. Sehingga, bukanlah sesuatu yang aneh dan salah, jika kita mendapatkan ada orang yang memandang penting memperbanyak riwayat, sedangkan yang lain membatasi dengan mengingkari banyaknya riwayat Abu Hurairah. Khususnya, apabila seorang sahabat mendapatkan dhahir hadits-hadits yang memerintahkan untuk membatasi dalam meriwayatkan hadits dengan merajihkannya dari hadits-hadits lain, yang memerintahkan untuk menyampaikan dan memperbolehkan meriwayatkan hadits (secara bebas) -atau barangkali- belum mendengar hadits-hadits lainnya.[47]

Kemudian mereka mulai mempertanyakan mengapa Abu Hurairah banyak menyampaikan hadits melebihi para sahabat besar lainnya, seperti Khulafa’ur Rasyidin. Usaha memperbandingkan riwayat Abu Hurairah dengan riwayat Khulafa’ur Rasyidin dalam jumlah hadits yang diriwayatkan mereka merupakan satu kesalahan yang besar, dengan dasar-dasar sebagai berikut:

1. Memang benar bahwa Khulafa’ur Rasyidin telah mendahului Abu Hurairah dalam persahabatan dan keislaman serta penerimaan hadits. Namun mereka sibuk mengurus permasalahan negara dan pengaturan hukum serta pengiriman para ulama, ahli Qur’an dan Qadhi’(hakim). Sehingga mereka menunaikan amanat yang mereka emban sebagaimana mereka telah menunaikan amanat mengurus permasalahan umat. Sebagaimana kita tidak mencela Khalid bin Al Walid dengan sedikitnya periwayatannya dari Rasulullah karena sibuk dengan jihad. Demikian juga tidak mencela Abu Hurairah dengan banyaknya periwayatannya karena sibuk dengan ilmu. Setiap orang dimudahkan Allah kepada yang terbaik baginya.

2. Abu Hurairah meluangkan seluruh waktu dan pikirannya kepada ilmu dan pengajaran tanpa ikut serta dalam politik. Ditambah dengan kebutuhan orang kepada beliau karena usianya yang panjang. Dengan demikian membuat perbandingan antara beliau dengan sahabat-sahabat besar atau Khulafa’ur Rasyidin tidak dapat dianggap benar.[48]

Rasa aneh dan tuduhan memperbanyak hadits telah dijawab oleh Abu Hurairah sendiri dengan pernyataannya:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّكُمْ تَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُونَ مَا بَالُ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يُحَدِّثُونَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ صَفْقٌ بِالْأَسْوَاقِ وَكُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَشْهَدُ إِذَا غَابُوا وَأَحْفَظُ إِذَا نَسُوا وَكَانَ يَشْغَلُ إِخْوَتِي مِنْ الْأَنْصَارِ عَمَلُ أَمْوَالِهِمْ وَكُنْتُ امْرَأً مِسْكِينًا مِنْ مَسَاكِينِ الصُّفَّةِ أَعِي حِينَ يَنْسَوْنَ

Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: Kalian akan menyatakan, bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Dan Allahlah tempat (untuk membuktikan) janji. Juga mengatakan “Mengapa orang-orang Al Muhajirin dan Anshar tidak banyak meriwayatkan hadits, seperti periwayatan Abu Hurairah?” Sungguh, saudarasaudaraku dari Muhajirin disibukkan dengan jualbeli di pasar. Sedangkan saudara-saudaraku dari Anshar disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku seorang miskin yang selalu mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama perutku berisi. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku ingat dan paham saat mereka lupa.”[49]

Dalam lafazh Imam Ahmad: “Sedangkan aku adalah seorang yang i’tikaf (berdiam diri di masjid (Ahlus Sifah), dan paling banyak turut serta dalam majelis-majelis Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku menghafalnya
ketika mereka lupa”[.50]

Dalam lafazh Al Hakim: “Sungguh, isteri ataupun jual-beli di pasar tidak menyibukkan (melalaikan) kami dari turut serta bersama Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam, melainkan aku meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu kalimat yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepadaku, atau sesuap makanan yang Beliau berikan kepadaku”.[51]

Kita lihat dalam pernyataan dan sejarah Abu Hurairah, ia telah mencurahkan seluruh kemampuannya untuk mendengar, menghafal dan menyaksikan seluruh peristiwa yang berkaitan dengan diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ditambah dengan kekuatan hafalan dan lamanya waktu bermulazamah setelah berdatangan orang untuk masuk Islam. Tentu hal ini meembuatnya dapat menghafal hadits-hadits yang tidak ditemui di kalangan sahabat lainnya.

Terbukti. Kita mendapati sebagian besar kibar sahabat (tokoh-tokoh besar sahabat) telah menyadari dan mengakui, bahwa mereka telah disibukkan dengan jual-beli di pasar daripada mendengarkan sebagian hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah dilukiskan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Lihatlah, Al Faruq Umar bin Khaththab mendengar sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy’ari, lalu ia mengingkarinya, sampai kemudian Abu Sa’id Al Khudri bersaksi menguatkan Abu Musa Al Asy’ari, bahwa ia mendengar hadits itu juga, lalu Umar (pun) berkata: “Aku belum mengetahui hadits ini termasuk perkara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jual-beli di pasar telah melalaikanku dari mendengar hadits ini”.[52]

Bahkan tidak hanya jual-beli semata yang melalaikannya. Juga tempat tinggal beliau (Umar bin Al Khaththab) yang berada di ‘Awali [53] Madinah telah pula melalaikannya. Tidak seperti Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang hanya beberapa langkah dari kamar ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Sehingga tidaklah aneh jika Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh sahabat-sahabat lama (tokoh besar sahabat).[54]

Dengan demikian tertolaklah tuduhan orangorang yang beralasan dengan sedikitnya hadits yang diriwayatkan oleh kibarush shahabah (sahabat senior) untuk menolak dan mendustakan riwayat-riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang telah banyak meriwayatkan hadits. Tidak lain, mereka sendirilah yang telah berdusta. Sedikitnya riwayat dari sahabat senior Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak lain karena mereka telah wafat sebelum dibutuhkan umat. Dan yang banyak riwayatnya, hanyalah dari Umar bin Al Khaththab dan Ali bin Abi Thalib. Sebab, keduanya dijadikan pemimpin (kaum muslimin), sehingga ditanya dan memutuskan perkara kaum muslimin.

Seluruh sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pemimpin tauladan yang dicontoh dan dikenang semua amal yang mereka kerjakan. Mereka dimintai fatwa dan berfatwa; mereka mendengar hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyampaikannya. Sehingga banyak sahabat-sahabat senior yang lebih sedikit haditsnya dibanding dengan lainnya; seperti: Abu Bakar, Utsman, Thalhah, Az Zubair, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Sa’ad bin Zaid bin Amr bin Naufal, Ubay bin Ka’ab, Sa’ad bin Ubadah, Ubadah bin Ash Shamith, Usaid bin Khudhair, Muadz bin Jabal dan lainnya yang segenerasi dengan mereka g . Mereka tidak kita dapatkan banyak meriwayatkan hadits sebagaimana para sahabat-sahabat muda, seperti: Jabir bin Abdullah, Abu Sa’id Al Khudri, Abdullah bin Umar bin Al Khaththab, Abdullah bin Amr bin Al Ash, Abdullah bin Abbas, Rafi’ bin Khudaij, Anas bin Malik, Al Barra’ bin Azib dan yang segenerasi dengan mereka; sebab mereka hidup (setelah para tokoh tua sahabat) dan berumur panjang, sehingga orang-orang membutuhkan mereka. Sementara itu, banyak para sahabat sebelum dan setelahnya meninggal bersama ilmunya. Sebagian mereka ada yang tidak menyampaikan satu haditspun dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mungkin lebih lama bersahabat, belajar dan mendengar hadits Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan orang yang meriwayatkan hadits. Tetapi kita memahami hal ini, karena mereka sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Atau yang bersangkutan tidak perlu menyampaikan, karena sudah banyak sahabat-sahabat lainnya yang telah meriwayatkan hadits. Atau karena kesibukkan mereka dengan ibadah dan pergi berjihad di jalan Allah hingga mereka wafat, dan tidak satu pun hadits yang diriwayatkannya.

Al Mu’allimi rahimahullah berpendapat, disana ada dua tugas. Yang pertama, menerima hadits dan mendapatkan penjelasan langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Yang kedua, adalah tugas menyampaikan. Adapun menerima hadits dan penjelasan langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (talaqqi), maka para sahabat tidak mampu terus-menerus secara konsisten bermulazamah (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ini berbeda dengan Anas dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma yang secara terus-menerus mengikuti dan melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga secara pasti menunjukkan, bahwa keduanya menerima langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak, dibandingkan dengan talaqqi para sahabat yang sibuk dengan perdagangan dan pertaniannya. Disamping itu, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu memiliki antusiasme yang tinggi terhadap ilmu, juga talaqqi hadits-hadits yang dihafal orang-orang yang telah mendahuluinya bergaul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga terkadang Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkannya dari mereka.[55]

Adapun dalam hal menyampaikan. Sesungguhnya Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu hanya hidup pada masa penyampaian hadits selama kurang lebih dua tahun, dan dalam keadaan sibuk melaksanakan tugas menata permasalahan kaum muslimin. Sedangkan Umar Radhiyallahu ‘anhu -pada masa Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, - ia disibukkan dengan tugas kementerian (pendamping Abu Bakr) dan perdagangan. Setelah wafatnya Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, Umar pun sibuk menata dan mengatur urusan kaum muslimin.

Diriwayatkan dalam kitab Al Mustadrak, bahwa Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu mewasiatkan sahabat-sahabatnya untuk mencari ilmu. Lalu ia menyebutkan kepada mereka nama-nama: Abu Darda’, Salman, Ibnu Mas’ud dan Abdullah bin Sallam, Radhiyallahu anhum. Lalu Yazid bin Umairah berkata,”Lalu (bagaimana) Umar bin Al Khaththab?” Muadz Radhiyallahu ‘anhu menjawab,”Janganlah anda bertanya kepada Umar, sebab ia orang yang sibuk.”

Demikian juga Utsman dan Ali Radhiyallahu anhuma pada masa hidupnya disibukkan dengan tugas-tugas kementerian (pendamping Khalifah) dan lainnya, kemudian disibukkan dengan tugas sebagai khalifah dan menghadapi berbagai macam fitnah dan ujian. Orang yang semangat dan gemar mencari ilmu, mengejar mereka dan yang semisalnya; memandang seluruh sahabat adalah orang-orang yang tsiqah (terpercaya). Karenanya mereka menganggap cukup dengan kedudukan sahabat- sahabat. Para sahabat generasi senior memandang, bukan menjadi suatu keharusan yang mendesak atas mereka untuk menyampaikan (hadits), kecuali jika dibutuhkan. Juga memandang cukup, jika amal sudah dilakukan berdasarkan hal tersebut, sehingga tidak ada sedikitpun dari Sunnah Nabi yang diabaikan. Disebabkan para sahabat masih sangat banyak dan masa tinggal serta kehidupan mereka akan panjang. Begitu pula berbagai kegiatan yang membutuhkan tabligh (penyampaian hadits) amatlah banyak. Atas itu semua, Allah Ta’ala telah berjanji menjaga syari’atNya. Meskipun demikian, mereka pun sangat berhati-hati terhadap dirinya, karena takut salah. Mereka juga berpendapat, jika ada salah seorang diantara mereka keliru saat dibutuhkan menyampaikan (hadits), maka yang bersangkutan termaafkan; (ini) berbeda jika menyampaikannya sebelum dibutuhkan lalu ia keliru. Sekalipun demikian, mereka sangat suka orang lain yang mencukupkannya. Walaupun demikian adanya, mereka tetap meriwayatkan berbagai macam hadits. Sampai kepada mereka dari sebagiannya, bahwa Abu Hurairah telah banyak meriwayatkan hadits dan tidak ada yang mengingkarinya. Yang ada, hanyalah kisah yang menunjukkan, bahwa memperbanyak riwayat menyalahi yang utama.[56]

Yang aneh bin ajaib, ada orang yang kaget dengan banyaknya hadits Abu Hurairah. Dan lebih aneh lagi dibahas pada abad kedua puluhan ini! Apakah kaget dengan hafalan Abu Hurairah yang mampu menghafal 5.374 hadits? Atau kaget bila beliau menghafal sejumlah ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahunan? Jika kaget dengan kuatnya hafalan beliau, maka ini bukanlah sarana untuk mencelanya, karena banyak orang Arab yang telah menghafal lebih banyak dari hafalan Abu Hurairah. Kita lihat, banyak para sahabat yang telah hafal Al Qur’an, hadits dan syair-syair. Lalu apa katanya tentang mereka? Apa yang ia katakan tentang hafalan Abu Bakar nasab Arab? Apa yang dikatakannya tentang Hammad Ar Rawiyah, orang yang paling mengetahui sejarah, syair, berita, nasab dan bahasa orang Arab? Apa yang dikatakan padanya jika ia menyampaikan untuk setiap huruf hija’iyah seratus qasidah yang panjang dari syair jahiliyah saja? Apa yang dikatakannya tentang hafalan hibrul umat Ibnu Abbas dan hafalan Imam Az Zuhri, Sya’biy dan Qatadah bin Da’amah As Sadusi? Jadi hafalan Abu Hurairah bukanlah baru dan aneh. Apalagi bila diketahui, bahwa hadits-hadits yang berjumlah 5.374 itu tidak semuanya shahih; sehingga Abu Hurairah tidak dapat dituduh hanya karena banyaknya hafalan dan hadits yang beliau riwayatkan ini. Jika kaget dengan kemampuan Abu Hurairah menerima hadits-hadits yang banyak ini dari Rasulullah selama 3 tahun, maka ia telah lupa bahwa Abu Hurairah bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun-tahun yang penting. Masa terjadinya peristiwa-peristiwa sosial, politik dan pensyari’atan secara umum, sehingga memungkinkan beliau menghafal seluruhnya.[57]

PENUTUP
Tuduhan dan syubhat yang dilontarkan musuh Islam seputar sahabat Abu Hurairah masih sangat banyak, namun sebagaian yang telah dibantah di atas mudah-mudahan dapat menjadi ibrah bagi kaum muslimin dan menjadi peringatan terhadap bahaya yang mengancam mereka.

Sebagai penutup, kami bawakan pernyataan Ibnu Khuzaimah yang dinukil Dr. Muhammad ‘Ajaj Al Khathib dalam kitab As Sunnah Qabla At Tadwin dari Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain karya Imam Al Hakim. Nashnya sebagai berikut:

Orang yang telah buta hatinya mencela Abu Hurairah hanya karena ingin menolak haditsnya, karena mereka tidak faham maknanya. Orang tersebut adakalanya seorang mu’aththil jahmi (pengikut aliran sesat Jahmiyah, Pen) karena mendengar hadits-hadits Abu Hurairah yang menyelisihi madzhab mereka yang kufur, lalu mencela Abu Hurairah dan menuduhnya dengan tuduhan yang Allah telah sucikan darinya. Tuduhan ini untuk membentuk opini pada orang awam, bahwa hadits-hadits Abu Hurairah tidak benar. Adakalanya ia seorang Khawarij yang mengangkat pedang kepada kaum muslimin dan menganggap tidak adanya kewajiban mentaati khalifah dan. Jika ia mendengar hadits-hadits Abu Hurairah dari Nabi n yang menyelisihi madzhabnya yang sesat, tidak dapat menolak berita-berita beliau ini dengan hujjah, maka ujung-ujungnya dengan cara mencela Abu Hurairah. Atau seorang Qadariy (pengikut aliran sesat Qadariyah) yang meninggalkan Islam dan kaum muslimin, dan mengkafirkan kaum muslimin yang mengikuti takdir yang telah ditetapkan Allah dahulu sebelum hamba itu melakukannya. Jika melihat hadits-hadits yang beliau sampaikan dari Nabi n dalam menetapkan taqdir, tidak mendapatkan hujjah yang mendukung pendapat mereka yang merupakan kekufuran dan kesyirikan, maka kemudian mereka berhujjah dengan menyatakan bahwa berita-berita Abu Hurairah tidak boleh dipakai sebagai hujjah. Atau seorang bodoh yang ingin menjadi faqih dan mencarinya bukan dari tempatnya; jika mendengar berita Abu Hurairah menyelisihi pendapat madzhab orang yang dipilihnya secara taklid tanpa hujjah, maka orang tersebut mencela Abu Hurairah dan menolak riwayat-riwayatnya yang menyelisihi madzhab mereka, kemudian berberhujjah dengan hadits-hadits Abu Hurairah atas orang yang menyelisihinya jika haditsnya tersebut sesuai dengan madzhabnya.[58]

Demikianlah sebagian syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam atas diri Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dan masih banyak syubhat-syubhat yang mereka lontarkan. Semoga pengupasan yang sedikit ini

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[36]. Saqifah, op.cit. hlm. 14.
[37]. Saqifah, op.cit. hlm. 16.
[38]. Lihat Abu Hurairah dalam pengakuan para sahabat dalam mabhas edisi ini.
[39]. Al Bidayah Wan Nihayah, oleh Ibnu Katsir, VIII/106.
[40]. Zhulumatu Abi Ar Rayyah, hlm. 43.
[41]. Al Bukhari, dalam Shahih-nya, kitab Al Libas, Bab Al Mustawsyimah, no. 5490, hlm. VII/214.
[42]. Muslim, dalam Shahih-nya, kitab Al Ilmu, Bab Sardu Al Hadits, no. 3303.
[43]. Fathul Bari, VII/389-390.
[44]. Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Jana’iz, Bab Fadhlu ‘Alash Shalat Wa Ittiba’uha, no. 1574.
[45]. Abu Hurairah Rawiyatul Islam, hlm. 278, yang dikutip apa yang dituduhkan oleh Al Iskafi dari Syarhu Nahji Al Balaghah, I/468, Cetakan Beirut.
[46]. Difa’un ‘An Abi Hurairah, op.cit. hlm. 123.
[47]. Ibid, hlm. 87, dengan perubahan.
[48]. As Sunnah Qabla At Tadwin, op.cit. hlm. 450.
[49]. Al Bukhari,dalam Shahih-nya, kitab Al Buyu’, Bab Ma Ja’a Fi Qaulihi Ta’ala Faidza Qadhaita Ash Shalat, no. 1906-III/135 dan Ahmad bin Hambal dalam Musnad Ahmad, hadits no. 7273.
[50]. Al Musnad, XIV/122.
[51]. Al Mustadrak, III/510 dengan sanad yang shahih.
[52]. Muslim, VI/179.
[53]. Nama daerah di kota Madinah. Hingga kini masih dikenal dengan nama tersebut.
[54]. Difa’un ‘An Abi Hurairah, op.cit. hlm. 72-75 secara singkat
[55]. Al Anwa’u Al Kasyifah, hlm. 141, kami nukil dari Difa’un ‘An Abi Hurairah, op.cit. hlm. 91.
[56]. Difa’un ‘An Abi Hurairah, op.cit. hlm. 91.
[57]. Dinukil secara bebas dari As Sunnah Qabla At Tadwin, op.cit. hlm. 449.
[58]. As Sunnah Qabla At Tadwin, op.cit. hlm. 467-468

Artikel: http://almanhaj.or.id

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Teraniaya (1)

Oleh
Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi


Mencela dan melecehkan para sahabat dengan penghinaan dan tuduhan ngawur merupakan cara-cara pengikut iblis dan musuh-musuh Islam. Mereka, sebenarnya bertujuan mencela dan merendahkan para saksi kebenaran Islam, dan hendak mencela Rasulullah. Yaitu dengan menyatakan, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sahabat-sahabat yang jelek dan tidak memilih sahabat yang baik saja. Dengan cara ini, mereka ingin menghancurkan dan memadamkan cahaya Islam. Akan tetapi, mereka tidak akan mampu. Allah tidak ingin cahaya agamaNya padam, bahkan Allah menyempurnakan cahaya agamaNya, meskipun kaum kafir pengikut iblis tidak suka dan marah.

Mereka hendak memadamkan sunnah Rasulullah dengan slogan-slogan yang seakan rahmat dan ilmiyah, namun hakikatnya menyimpan dendam, penipuan besar dan pandir. Misalnya dengan mengusung istilah “studi kritis hadits”, “studi ilmiah dan kebebasan berpendapat”. Ini semua hanyalah tipuan belaka dan fatamorgana. Tujuannya satu, yaitu menghancurkan Islam dengan segala cara. Oleh sebab itu, wahai kaum muslimin. Berhati-hatilah terhadap racun yang ditebarkan dimana-mana untuk merusak aqidah dan syariat kita.

Diantara sahabat yang menjadi sasaran mereka adalah perawi yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Dalam makalah singkat ini, kami berusaha mengungkap beberapa tuduhan yang dilontarkan musuh Islam.

kepada Abu Hurairah, yang merupakan tokoh besar dalam periwayatan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berusaha membantah dan membedahnya dengan tetap memohon kemudahan dan petunjuk Allah.

Berikut beberapa tuduhan dan kecaman para musuh Islam yang dilontarkan secara zhalim atas diri Abu Hurairah.[1]

1. Mereka [2] menyatakan.
Berbeda dengan para sahabat lain, para ahli sejarah tidak dapat memastikan nama sebenarnya dari Abu Hurairah, namanya dizaman jahiliyah maupun dizaman Islam. Begitu pula asal usulnya [3].

Juga menyatakan :
Abu Hurairah bukan sahabat besar, bukan dari kaum muhajirin bukan Anshar, bukan penyair Rasul, bukan keluarga Rasul, malah asal-usulnya, orang tuanya, bahkan nama aslinyapun tidak diketahui orang.[4]

Tanggapan.
Memang Abu Hurairah lebih dikenal dengan kunyah (julukannya) daripada namanya. Namun pernyataan diatas tidak benar seluruhnya, dan tidak dapat dijadikan alasan untuk melecehkan Abu Hurairah. Meskipun sejarah Abu Hurairah pada masa jahiliyah tidak dikenal, akan tetapi hal itu merupakan satu kewajaran; karena bangsa Arab –seluruhnyatenggelam dalam kejahiliyahan dan terkungkung di wilayah jazirahnya saja. Mereka tidak peduli dengan keadaan dunia. Begitu juga dunia tidak peduli dengan keadaan dan kondisi mereka, kecuali yang berhubungan dengan perniagaan, karena melintasi wilayah mereka.

Baru, ketika Islam datang, Allah memuliakan dan menjadikan mereka sebagai pengemban risalahNya. Jadilah setiap individu dari mereka memiliki sejarah yang ditulis menjadi bahan pembicaraan. Dan para perawi, selalu memperhatikan berita mereka. Dan mereka pun memiliki murid yang selalu mengambil ilmu dan petunjuk dari mereka

Para ahli sejarah mengetahui, bahwa terkenalnya seseorang dengan gelar atau julukannya merupakan perkara biasa dan wajar. Bahkan, terkadang seseorang berselisih dalam hal nama dan kunniyah (julukan)nya, sebagaimana khalifah pertama lebih dikenal dengan gelarnya, yaitu Abu Bakar. Begitu juga dengan Abu Ubaidah, Abu Dujanah dan Abu Darda’. Mereka adalah tokoh-tokoh besar dan pahlawan dari kalangan sahabat. Namun lebih lebih dikenal dengan gelar-gelar mereka, hingga sebagian besar manusia tidak mengetahui nama mereka yang sebenarnya. Kita belum pernah mendengar, pada kurun waktu tertentu, bahwa kedudukan dan keturunan dapat menentukan penghargaan intelektualitas.[5] Karenanya, celaan dan pelecehan terhadap Abu Hurairah yang lebih dikenal dengan julukannya tersebut melebihi namanya adalah tidak benar. Apalagi para ulama Islam telah merajihkan namanya pada zaman Jahiliyah adalah Abdu Syamsi, dan setelah Islam berganti menjadi Abdurrahman. Kemudian tuduhan, bahwa dia tidak jelas asal usulnya, juga merupakaan satu kebodohan dari para penuduh ini, karena asal-usul dan nasab Abu Hurairah cukup terhormat.[6]

Apakah ihwal Abu Hurairah dalam hal ini berbeda dengan ihwal sahabat-sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lainnya? Lalu, mengapa ketidak jelasan sejarah kehidupan Abu Hurairah pada masa jahiliyah merusak kedudukan dan menghancurkan posisinya dalam Islam? Apakah Kitabullah ada menyebutkan, bahwa orang yang tidak dikenal sejarahnya sebelum Islam harus direndahkan dan dilecehkan posisi dan kedudukannya, serta diragukan semua riwayatnya berkaitan dengan haditshadits Rasul? Maha Suci Allah, sesungguhnya ini merupakan tuduhan dan tipu daya yang besar. [7]

2. Mereka menyatakan.
Abu Hurairah ada di Madinah hanya 1 tahun 9 bulan di Shuffah. Abu Hurairah datang kepada Rasulullah pada bulan Safar tahun 7 Hijriyah, setelah perang Khaibar dan tinggal di emperan Masjid Madinah (Shuffah) sampai bulan Zulkaidah tahun 8 Hijriyah, karena pada bulan itu ia disuruh Rasul ke Bahrain menemani Al Ala’ Al Hadhrami sebagai muadzdzin. [8]

Tanggapan
Pernyataan ini tidak benar. Sebab Abu Hurairah bersahabat dengan Nabi sekitar 4 tahun lebih. [9] Sebagaimana ditegaskan oleh Humaid bin Abdurrahman Al Himyari dengan pernyataannya:

لَقِيتُ رَجُلًا صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَ سِنِينَ كَمَا صَحِبَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ

Aku berteman dan berjumpa dengan orang-orang yang bersahabat dengan Nabi sebagaimana persahabatan Abu Hurairah dengan Nabi selama empat tahun.[10]

Sedangkan kepergian Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menemani Al Ala’ Al Hadhrami, tidak menunjukkan bila beliau menetap disana sampai Rasulullah meninggal, apalagi adanya riwayat yang menyatakan beliau bermulazamah dengan Nabi selama empat tahun. Demikian juga pendapat yang didukung riwayat otentik, menunjukkan beliau ikut serta perang Khaibar meskipun tidak seluruhnya [11] dan mengikuti haji bersama Abu Bakar Ash Shidiq tahun 9H.

3. Mereka menyatakan.
Ia sendiri menceritakan bahwa ia mendatangi Rasul bukan karena ia mendapat hidayah atau karena kecintaannya kepada Nabi SAW seperti yang lain, tetapi untuk mendapatkan makanan.

Dalam riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah berkata: “Aku adalah seorang miskin, aku bersahabat dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku.” Dan dalam riwayat lain: “Untuk memenuhi perutku yang lapar.” Dalam riwayat Muslim: “Aku melayani Rasul Allah untuk mengisi perutku.” atau “Aku menetap dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku” [12]

Kemudian mereka menyatakan lagi :
Ia juga punya hobi makan. Karena kesukaannya yang berlebihan akan makanan, maka sering juga disebut sebagai pembawa ‘hadis lesung’ (lesung-al-mihras- alat untuk menumbuk dan mengulek makanan. Lihat, “Hadits Lalat” dan “Hadits Pundi-pundi”) [13]

Tanggapan.
Riwayat-riwayat yang dipakai mereka sebagai dasar tuduhan terhadap Abu Hurairah, bahwa beliau melakukan aktivitas mendengar hadits Rasulullah hanya untuk mencari sesuap nasi yang mengenyangkan perutnya; dengan kata lain, melakukannya hanya karena dunia yang rendah, memang diriwayatkan secara shahih dengan lafadz:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّكُمْ تَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُونَ مَا بَالُ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يُحَدِّثُونَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ صَفْقٌ بِالْأَسْوَاقِ وَكُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَشْهَدُ إِذَا غَابُوا وَأَحْفَظُ إِذَا نَسُوا وَكَانَ يَشْغَلُ إِخْوَتِي مِنْ الْأَنْصَارِ عَمَلُ أَمْوَالِهِمْ وَكُنْتُ امْرَأً مِسْكِينًا مِنْ مَسَاكِينِ الصُّفَّةِ أَعِي حِينَ يَنْسَوْنَ

Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: Kalian akan menyatakan, bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Dan Allahlah tempat (untuk membuktikan) janji. Juga mengatakan “Mengapa orang-orang Al Muhajirin dan Anshor tidak banyak meriwayatkan hadits, seperti periwayatan Abu Hurairah?” Sungguh, saudarasaudaraku dari Muhajirin disibukkan dengan jualbeli di pasar. Sedangkan saudara-saudaraku dari Anshor disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku seorang miskin yang selalu mengikuti Rasulullah n selama perutku berisi. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku ingat dan paham saat mereka lupa. [14]

Pernyataan beliau Radhiyallahu 'anhu dalam lafadz pertama “Allah-lah tempat (membuktikan) janji” maksudnya adalah, bahwa Allah akan menghisabku jika aku sengaja berdusta, (dan) sekaligus akan menghisab orang-orang yang menuduhku dengan tuduhan yang keji.[15]. Adapun pernyataan beliau Radhiyallahu 'anhu : “selama perutku berisi”, yakni merasa telah puas dengan sesuap makanan, sehingga selalu hadir di sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam [16]

Dengan demikian, tuduhan terhadap beliau Radhiyallahu 'anhu sangat dipaksakan dan tidak ilmiyah. Hal itu karena Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu tidak sekedar menceritakan persahabatannya semata, sebagaimana persahabatan yang dimiliki sahabat lainnya. Namun, dalam pernyatannya tersebut, beliau Radhiyallahu 'anhu juga ingin menceritakan keistimewaan (yang dimilikinya). Keistimewaan tersebut adalah kebersamaannya dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak dimiliki sahabat lainnya.

Keistimewaan tersebut dijelaskan dengan caranya (yang) tawadhu’, dengan menyatakan: “Selama perutku berisi”, lalu menyebutkan keistimewaan para sahabat lainnya, sebagai orang-orang yang mampu dan kuat mencari penghidupan. Hal ini, demi Allah, merupakan kesantunan yang luar biasa.[17]

Tuduhan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu banyak makan dan ambisi mendapatkan makanan, serta bersahabat dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam hanya karena makanan, bukan karena hidayah Islam atau kecintaan kepada Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, sungguh ini merupakan tuduhan keji yang hanya dilontarkan oleh orang yang hasad atau orang yang memiliki kerusakan syaraf. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang yang berakal dapat membenarkan pemahaman, bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu sanggup meninggalkan negerinya, kabilah dan tanah airnya demi menjumpai Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam hanya (sekadar) untuk makan dan minum semata?

Apakah Abu Hurairah Radhiyallahu a'nhu di kabilahnya tidak mendapatkan makan dan minum? Lalu untuk apa Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu datang ke Madinah? Apakah di negerinya ia tidak bisa mendapat makanan dan minuman sebagaimana yang diperoleh para petani dan pedagang disana? Tuduhan ini betul-betul pelecehan terhadap sahabat yang mulia ini. Dan para penuduh lebih layak dilecehkan dan diragukan keikhlasannya dibandingkan beliau Radhiyallahu 'anhu. Sejauh inikah kebutaan hati dan kedengkian mereka?

Kemudian dalam pernyataan mereka ini terdapat penyimpangan makna, karena dalam riwayat tersebut bukan dengan lafazh “shuhbah” (bersahabat). Padahal yang benar, ialah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dengan lafazh “alzamu” (selalu menemani dan mengikuti).

Demikian juga Imam Muslim meriwayatkannya dengan lafadz: “Aku adalah seorang miskin yang melayani Rasul selama perutku berisi”. Hal ini menunjukkan penyimpangan yang jelas dari pernyataan beliau Radhiyallahu 'anhu, sebab kata “persahabatan” (shuhbah) tidak sama dengan kata “mulazamah” dan “al khidmah” (melayani dan membantu). Sehingga pernyataan beliau Radhiyallahu 'anhu ini untuk menjelaskan sebab banyaknya periwayatan beliau terhadap hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti telah jelas dari alur pernyataannya.

Para penuduh ini, disamping telah melakukan tahrif (penyimpangan) di atas, mereka juga memotong pernyataan beliau Radhiyallahu 'anhu sehingga merubah konotasi maknanya, sehingga terfahami bahwa pendorong utama persahabatan beliau adalah mencari sesuap makanan. Padahal semua itu beliau katakan untuk menjelaskan sebab yang menjadikannya sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Demikianlah, tahrif (menyimpangkan sesuatu dari lafazh atau makna sebenarnya), sudah menjadi adat kebiasaan orang yang menyimpang dari jalan lurus dan penyembah hawa nafsu.

Dari manakah mereka mengklaim (menganggap) diri mampu mengungkapkan secara benar dan jelas sebab persahabatan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ? Apakah mereka lebih tahu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah memberikan pengakuan dan pujiannya kepada Abu Hurairah?[18]

Mereka tidak cukup hanya dengan itu, bahkan menyatakan, bahwa makna lafazh (عَلَى) pada perkataan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu (‘عَلَىمِلء بَطْنِيْ) bermakna untuk yang menunjukkan sebab. Ini juga merupakan kedustaan dan penipuan lain, sekaligus sebagai bukti bila mereka selalu mencari jalan untuk menjatuhkan pribadi Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.

Pernyataan Abu Hurairah ini telah difahami dengan benar oleh para ulama Islam, seperti pernyataan Imam Nawawi ketika menjelaskan perkataan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu (ala mil’i bathni): maknanya, aku senantiasa mulazamah dengan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku rela dengan makananku. Aku tidak mengumpulkan harta untuk simpanan dan tidak untuk yang lainnya. Dan akupun tidak berusaha menambah porsi makanan bagiku. Adapun maksud pernyataan beliau Radhiyallahu 'anhu “melayani”, bukan sebagai upaya untuk memperoleh gaji atau upah. [19] Sungguh sangat jelas kebatilan tuduhan ini.

4. Mereka menyatakan.
Ia mendatangi para sahabat seperti ‘Umar dan Abu Bakar dengan berpura-pura meminta dibacakan sebuah ayat Al Qur’an, menurut pengakuannya sendiri, padahal ia ingin agar ditawari makanan, tetapi tiada seorang sahabatpun menawarkan makanan kepadanya, kecuali Ja’far bin Abi Thalib, yang langsung mengajak Abu Hurairah ke rumahnya.

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah: “Demi Allah, tiada lain kecuali Dia, aku sering menekan perutku ke bumi karena lapar, dan pada suatu hari, karena lapar, aku sering menekan perutku dengan batu sambil duduk di jalan tempat mereka keluar dari masjid. Aku bertemu dengan Abu Bakar dan aku bertanya kepadanya tentang ayat kitab Allah, dan aku tidak menanyainya kecuali (dengan maksud) agar dia memberi aku makan; tapi ia berlalu dan tidak melakukannya. Dan ‘Umar bertemu denganku dan aku bertanya mengenai ayat kitab Allah, aku tidak bertanya (kepadanya) kecuali agar ia mengajak aku makan, dan ia tidak melakukannya.

Bukhari : “Aku bila bertanya mengenai sebuah ayat (Al Qur’an) kepada Ja’far (bin Abu Thalib), maka dia tidak akan menjawab kecuali setelah ia mengajakku ke rumahnya”. Di bagian lain : “Aku meminta kepada Ja’far bin Abi Thalib untuk membacakan kepadaku ayat (Al Qur’an), yaitu artinya, agar dia memberi aku makan, dan dia (Ja’far bin Abu Thalib) adalah orang yang paling baik terhadap orang miskin. Ia mengajak kami ke rumahnya dan memberi kami makan seadanya.” [20]

Tanggapan.
Kisah ini dibawakan imam Al Bukhari yang lengkapnya berbunyi:

اللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنْ كُنْتُ لَأَعْتَمِدُ بِكَبِدِي عَلَى الْأَرْضِ مِنْ الْجُوعِ وَإِنْ كُنْتُ لَأَشُدُّ الْحَجَرَ عَلَى بَطْنِي مِنْ الْجُوعِ وَلَقَدْ قَعَدْتُ يَوْمًا عَلَى طَرِيقِهِمْ الَّذِي يَخْرُجُونَ مِنْهُ فَمَرَّ أَبُو بَكْرٍ فَسَأَلْتُهُ عَنْ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِيُشْبِعَنِي فَمَرَّ وَلَمْ يَفْعَلْ ثُمَّ مَرَّ بِي عُمَرُ فَسَأَلْتُهُ عَنْ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِيُشْبِعَنِي فَمَرَّ فَلَمْ يَفْعَلْ ثُمَّ مَرَّ بِي أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَبَسَّمَ حِينَ رَآنِي وَعَرَفَ مَا فِي نَفْسِي وَمَا فِي وَجْهِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ وَمَضَى فَتَبِعْتُهُ فَدَخَلَ فَاسْتَأْذَنَ فَأَذِنَ لِي فَدَخَلَ فَوَجَدَ لَبَنًا فِي قَدَحٍ فَقَالَ مِنْ أَيْنَ هَذَا اللَّبَنُ قَالُوا أَهْدَاهُ لَكَ فُلَانٌ أَوْ فُلَانَةُ قَالَ أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ إِلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ فَادْعُهُمْ لِي قَالَ وَأَهْلُ الصُّفَّةِ أَضْيَافُ الْإِسْلَامِ لَا يَأْوُونَ إِلَى أَهْلٍ وَلَا مَالٍ وَلَا عَلَى أَحَدٍ إِذَا أَتَتْهُ صَدَقَةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْهِمْ وَلَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْهَا شَيْئًا وَإِذَا أَتَتْهُ هَدِيَّةٌ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ وَأَصَابَ مِنْهَا وَأَشْرَكَهُمْ فِيهَا فَسَاءَنِي ذَلِكَ فَقُلْتُ وَمَا هَذَا اللَّبَنُ فِي أَهْلِ الصُّفَّةِ كُنْتُ أَحَقُّ أَنَا أَنْ أُصِيبَ مِنْ هَذَا اللَّبَنِ شَرْبَةً أَتَقَوَّى بِهَا فَإِذَا جَاءَ أَمَرَنِي فَكُنْتُ أَنَا أُعْطِيهِمْ وَمَا عَسَى أَنْ يَبْلُغَنِي مِنْ هَذَا اللَّبَنِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُدٌّ فَأَتَيْتُهُمْ فَدَعَوْتُهُمْ فَأَقْبَلُوا فَاسْتَأْذَنُوا فَأَذِنَ لَهُمْ وَأَخَذُوا مَجَالِسَهُمْ مِنْ الْبَيْتِ قَالَ يَا أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ خُذْ فَأَعْطِهِمْ قَالَ فَأَخَذْتُ الْقَدَحَ فَجَعَلْتُ أُعْطِيهِ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ فَأُعْطِيهِ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ رَوِيَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ فَأَخَذَ الْقَدَحَ فَوَضَعَهُ عَلَى يَدِهِ فَنَظَرَ إِلَيَّ فَتَبَسَّمَ فَقَالَ أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بَقِيتُ أَنَا وَأَنْتَ قُلْتُ صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اقْعُدْ فَاشْرَبْ فَقَعَدْتُ فَشَرِبْتُ فَقَالَ اشْرَبْ فَشَرِبْتُ فَمَا زَالَ يَقُولُ اشْرَبْ حَتَّى قُلْتُ لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أَجِدُ لَهُ مَسْلَكًا قَالَ فَأَرِنِي فَأَعْطَيْتُهُ الْقَدَحَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَسَمَّى وَشَرِبَ الْفَضْلَةَ

Demi, Allah. Tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Dia. Sungguh aku tempelkan perutku ke tanahkarena lapar dan aku ganjal perutku dengan batu menahan lapar. Sungguh, pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa mereka pakai pulang dari (bertemu) Rasulullah Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Abu Bakar melintasi jalan itu. Aku pun bertanya kepadanya tentang satu ayat Al Qur’an. Dan tidaklah aku menanyakannya, kecuali agar Abu Bakar menjamuku. Dia pun melewatiku dan tidak berbuat apa-apa. Lalu melintas di jalan itu, Umar bin Al Khaththab. Aku pun bertanya kepadanya satu ayat Qur’an. Dan tidaklah kutanyakan hal itu, kecuali agar ia menjamuku. Namun ia pun melintas dan tidak berbuat apa-apa. Kemudian setelah itu Abul Qasim Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wa sallam.melintas di jalan itu seraya tersenyum ketika memandangku. Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. mengetahui yang sedangbergejolak dalam hatiku dan yang tersirat dariwajahku. Kemudian Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. memanggilku,”Wahai,Abu Hirr,” aku pun menjawabnya,”Aku penuhi panggilanmu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, ”Ikuti aku.” Beliau beranjak meninggalkanku dan aku pun mengiringi di belakang Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. Beliau masuk rumah dan aku pun meminta izin dan diizinkan. Ketika Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. memasuki rumah, Beliau mendapati susu dalam gelas besar (bejana). Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. bertanya,”Darimana susu ini?” Mereka (isteri-isteri Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam ) Radhiyallahu ‘anhum menjawab,”Hadiah dari fulan atau fulanah untuk engkau.” Beliaupun memanggilku,”Wahai, Abu Hirr.”Aku pun menjawabnya,”Kupenuhi panggilanmu,wahai Rasul.” Beliau bersabda,”Temuilah Ahlush Shuffah dan undanglah mereka kesini.” Kata Abu Hurairah, Ahlush Shuffah adalah tamu Islam. Mereka tidak bersandar kepada keluarga tertentu. Tidak memiliki harta dan famili seorang pun juga. Jika datang kepada Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. shadaqah, Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. kirimkan makanan tersebut kepada mereka dan sama sekali tidak ikut mencicipi makanan tersebut. Jika datang kepada Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. berupa hadiah (untuknya), maka Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam pun mengirimkannya kepada Ahlush Shuffah dan ikut bersama menikmatinya. Hal itu kurang berkenan bagiku, maka aku berkata (dalam hati),”Apakah susu ini cukup untuk Ahlush Suffah?! Menurutku, akulah yang berhak pertama kali meminum susu agar aku menjadi kuat dengannya. Maka ketika Beliau datang, Beliau memerintahkan kepadaku untuk membagikannya kepada mereka. Padahal, mungkin susu itu tidak akan sampai kepadaku. Namun, mentaati Allah dan RasulNya merupakan keharusan, maka akupun mendatangi dan mengundang mereka. Lalu mereka datang dan mohon izin masuk. Kemudian Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkannya.Lalu mereka mengambil posisi masing-masing di tempat yang ada di rumah Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memanggilku,”Wahai, Abu Hirr.” Aku pun menjawabnya,”Kupenuhi panggilanmu, wahai Rasul ….” Beliau bersabda lagi,”Ambil dan bagikan kepada mereka.” Aku pun mengambil gelas dan memberikannya kepada salah seorang (diantara mereka); ia meminumnya hingga puas dan kenyang, lalu ia kembalikan gelas itu dan aku berikan kepada orang lain; lalu meminumnya sampai puas dan kenyang. Begitu seterusnya hingga berakhir kepada Nabi Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. dalam keadaan seluruh Ahlush Shufah kenyang. Lalu Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. mengambil gelas tadi dan meletakkannya di atas tangan Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. Seraya memandangku sambil tersenyum dan bersabda,”Wahai, Abu Hirr! Tinggal aku dan kamu (yang belum minum). Aku menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Duduk dan minumlah.” Akupun duduk dan meminumnya. Lalu Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. bersabda lagi,”Minumlah,” lalu aku minum. Beliau terus memerintahkan kepadaku minum, sehingga aku berkata,”Cukup. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman dalam tubuhku. Beliau bersabda,”Berikanlah kepadaku,” aku pun menyerahkan gelas tadi, kemudian Beliau Shalalllahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah dan meminum susu yang tersisa. [21]

Mereka berdalih dengan kisah ini untuk menguatkan pernyataan mereka dalam mencela Abu Hurairah sebagai orang yang beramal untuk sesuap makanan. Akan tetapi, apakah karena kejadian tersebut, lalu kita tolak seluruh hadits-hadits
beliau, hingga sampai menghina sebagai orang yang memiliki hobi makan dan disebut sebagai pembawa hadits lesung?!

Orang yang meneliti kehidupan para sahabat akan mendapatkan bahwa dalam hal seperti ini, beliau Radhiyallahu ‘anhu tidak sendirian. Ada diantara sahabat yang berbuat hal serupa, diantaranya Watsilah bin Al Asqa’ sebagaimana diriwayatkan Al Hakim dengan lafazh:

“Kami tinggal selama tiga hari. Setiap orang yang menuju masjid mengajak dua dan tiga orang sesuai dengan kemampuannya, dan memberi mereka makan”. Beliau berkata lagi,”Aku termasuk yang tidak dibawa selama tiga hari tiga malam. Tiba tiba aku melihat Abu Bakar di kegelapan malam. Aku pun mendatanginya dan memintanya untuk membacakan surat Saba’ hingga sampai di rumahnya. Aku berharap ia mengundangku makan malam. Lalu ia pun membacakannya kepadaku hingga depan pintu rumahnya, kemudian berhenti di depan pintu sampai selesai membacakan seluruhnya. Kemudian ia masuk dan meninggalkanku di luar. Kemudian aku menemui Umar. Aku berbuat seperti itu dan ia (pun) berbuat serupa dengan perbuatan Abu Bakar terdahulu. Keesokan harinya, pagi-pagi aku menemui Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut padanya, dan Beliaupun menjamuku.” [22]

Apakah kita menolak seluruh hadits Waatsilah karena peristiwa ini?

Sedangkan kisah Abu Haurairah dengan Ja’far bin Abu Thalib dibawakan imam Bukhori dengan lafadz:

خَيْرُ النَّاسِ لِلْمَسَاكِينِ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ يَنْقَلِبُ بِنَا فَيُطْعِمُنَا مَا كَانَ فِي بَيْتِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ لَيُخْرِجُ إِلَيْنَا الْعُكَّةَ لَيْسَ فِيهَا شَيْءٌ فَنَشْتَقُّهَا فَنَلْعَقُ مَا فِيهَا

Sebaik-baik manusia terhadap orang miskin adalah Ja’far bin Abu Thalib. Dia terus mengunjungi kami dan memberi makan kami apa yang ada di rumahnya, sampai-sampai membawa tempat makanan tanpa berisi makanan. Kami pun memegangnya, lalu menjilati sisa yang ada di tempat makanan tersebut. [23]

Lihatlah perbedaan dan penukilan sembarangan yang menjadi ciri khas ahli bid’ah dan musuh Islam!

5. Mereka menyatakan:
Keperibadian Abu Hurairah lemah. Tatkala kembali dari Bahrain, Umar bin Khaththab mencurigainya menggelapkan uang baitul mal. ‘Umar menuduhnya sebagai pencuri dan menyebutnya sebagai musuh Allah dan musuh kaum muslimin, dalam riwayat lain, musuh Kitab atau musuh Islam. [24]

Tanggapan.
Pernyataan mereka ini berdasarkan riwayat yang disampaikan Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih tentang kisah kepulangan Abu Hurairah dari tugasnya sebagai Amir (Gubernur) Bahrain. Beliau menghadap Umar bin Khaththab dengan membawa uang sebanyak 400.000 dari Bahrain. Umar Radhiyallahu 'anhu bertanya kepadanya: “Apakah engkau menzhalimi seseorang?”Ia menjawab,”Tidak.” Umar Radhiyallahu 'anhu bertanya lagi, ”Apakah engkau mengambil sesuatu dengan tidak benar?” Ia menjawab, ”Tidak.” Umar Radhiyallahu 'anhu bertanya lagi, ”Berapa banyak yang engkau bawa untuk pribadi?” Ia menjawab, ”Sebanyak 20.000.” Umar Radhiyallahu 'anhu bertanya, ”Dari mana engkau mendapatkannya?” Ia menjawab, ”Aku berdagang.” Umar Radhiyallahu 'anhu berkata, ”Hitunglah modal dan rizkimu (gajimu), maka ambillah. Sedang yang lainnya simpanlah diBaitul Mal.” [25]

Dalam lafazh Abu Ubaid, (disebutkan) Umar berkata kepadanya: “Wahai, musuh Allah dan musuh KitabNya. Apakah engkau mengambil (mencuri) harta?” Ia menjawab,”Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh KitabNya. Akan tetapi aku adalah musuh bagi yang menentang keduanya dan aku tidak mencuri harta Allah.” Umar bertanya kembali: “Dari mana terkumpul untukmu uang sejumlah 10.000 dirham?” Ia menjawab,”Kudaku berkembang biak. Pemberian untukku selalu aku dapatkan. Begitu juga sahamku (bagianku dari pembagian rampasan perang) juga berkembang dan bertambah.” Lalu Umar mengambilnya dariku. Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, ”Ketika kutunaikan shalat Shubuh, aku
mintakan ampunan untuk Amirul mukminin.” [26]

Perhatikanlah! Bagaimana para musuh Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu memanfaatkan perkataan keras Umar Radhiyallahu 'anhu ini untuk mencaci Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, kemudian menuduhnya telah mencuri dan merampas; padahal permasalahannya tidaklah demikian. Umar Radhiyallahu 'anhu melakukan pengambilan sebagian harta tersebut terhadap beberapa pejabatnya [27] dan tidak mengkhususkan kepada Abu Hurairah saja. Sebabnya, ketika Amr bin Ash Sha’iq melihat harta para pejabat semakin bertambah banyak, ia merasa aneh, lalu menulis surat kepada Umar bin Al Khaththab dalam bentuk bait-bait syi’ir. [28] Lalu Umar Radhiyallahu 'anhu pun mengirim utusan kepada para petugas. Diantara mereka adalah Sa’ad Radhiyallahu 'anhu, dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, lalu ia mengambil harta mereka menjadi setengah bagian. [29] Begitu juga ia memutasi Abu Musa Al Asy’ari dari tugas di Bashrah, dan hartanya dibagi menjadi dua bagian. Demikian juga pada Al Haarits bin Wahb.[30]

Umar Radhiyallahu ‘anhu tidaklah menuduh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dan tidak juga hanya mengambil harta miliknya saja. Bahkan itulah sistem politik Umar Radhiyallahu ‘anhu terhadap para pejabatnya; bukan atas dasar syubhat, namun itu merupakan ijtihad dan kehebatan beliau dalam mengatur perkara-perkara kaum muslimin. [31] Sungguh Umar Radhiyallahu ‘anhu sangat mencintai sahabat, sebagaimana ia mencintai dirinya. Dan beliau sangat tidak suka, bila salah seorang dari mereka mendapatkan harta yang berbau syubhat. Perbuatan beliau ini banyak diriwayatkan dalam perjalanan hidupnya.[32]

Khalifah Umar Radhiyallahu ‘anhu khawatir atas mereka. Jangan-jangan orang bermu’amalah dalam perdagangan dan usaha dengan mereka karena jabatan yang disandangnya. Karenanya, beliau mengambil sebagian dari harta mereka dan meletakkannya di Baitul Mal agar terlepas tanggungjawabnya di hadapan Allah Ta’ala. Kemudian ia pun memberikan kepada mereka dari harta Baitul Mal sesuai jumlah yang layak. Dengan demikian menjadi halallah bagi mereka,
tanpa ada syubhat. [33]

Para penuduh tersebut hanya memandang dan menukil riwayat ini sesuai dengan keinginannya, lalu menjadikanya sebagai senjata untuk menyerang sahabat Abu Hurairah dan menuduhnya berkepribadian lemah, tanpa menyebutkan riwayatnya secara lengkap. Padahal dalam riwayat tersebut terdapat bantahan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu terhadap Umar Radhiyallahu ‘anhu , yaitu ketika Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya “Wahai, musuh Allah dan musuh kitabNya. Apakah engkau telah mencuri harta Allah?”, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menjawab,”Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh KitabNya. Akan tetapi aku adalah musuh bagi yang menentang keduanya.”

Dengan demikian jelaslah, bahwa Umar tidak mencurigai dan menuduh Abu Hurairah mencuri. Hal ini dibuktikan dengan keinginannya mengangkat kembali Abu Hurairah untuk kedua kalinya. Sebagaimana diriwayatkan Abu Ubaid setelah riwayat di atas dengan bunyi: “Kemudian, setelah itu Umar Radhiyallahu 'anhu berkata kepadaku: “Bukankah engkau mau bertugas kembali?” Aku menjawabnya: “Tidak”. Ia berkata: “Mengapa (tidak mau), padahal telah bertugas orang yang lebih baik darimu, yakni Yusuf”. Akupun menimpalinya, ”Sesungguhnya Yusuf seorang nabi dan anak seorang nabi pula. Sedangkan aku adalah anak Umaimah, dan aku takut tiga dan dua”. Umar Radhiyallahu 'anhu berkata,”Kenapa engkau tidak berkata lima?” Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menjawab,”Aku takut berbicara tanpa dasar ilmu dan memutuskan tanpa hilm (sabar dan hati-hati).” Atau ia berkata: “Aku berkata tanpa hilm (sabar dan hati-hati), dan aku memutuskan perkara tanpa dasar ilmu”.

Seorang perawi (dari Ibnu Sirin.) berkata: “Keraguan ini berasal dari Ibnu Sirin”. (Lalu Abu Hurairah berkata lagi, Edt),”Dan aku takut akan dipukul punggungku dan dicela kehormatanku dan diambil hartaku dengan paksa.” [34]

Seandainya Umar Radhiyallahu 'anhu telah mengetahui Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu pernah berkhianat, niscaya tidak akan memakainya sama sekali dan tidak akan memanggilnya untuk kedua kalinya. Seandainya Khalifah Umar Radhiyallahu 'anhu meragukan sedikit saja sifat amanah Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, tentu beliau akan menghakimi dan menghukumnya dengan hukuman syar’i. Beliau telah mengetahui sifat amanah dan keikhlasannya, maka beliaupun kembali menemui Abu Hurairah meminta menjadi pejabat beliau.[35]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Semua tuduhan dan kecaman dalam pembahasan ini diambil dari sebagian syubhat yang dilontarkan dalam buku Saqifah Awal Perselisihan Umat, karya seorang penganut Syi’ah bernama O. Hashem, Cetakan ketiga tahun 1415 H –1994 M, Penerbit Al Muntazhar, Jakarta Barat.
Hal ini dilakukan karena buku ini hanya menukil tuduhan dan kecaman para pendahulunya dari kalangan orang Syi’ah dan musuh-musuh Islam. Peringatan kami, hendaklah kaum muslimin berhati-hati terhadap buku ini karena berisi kebohongan dan kelicikan dalam mengolah kata, sehingga dapat mengelabuhi kaum muslimin yang tidak memiliki dasar pengetahuan Islam yang baik. Kemudian jawabannya kami ambil dari kitab Difa’un ‘An Abi Hurairah, karya Abdul Mun’im Shalih Al ‘Ali Al ‘Izzi, tanpa tahun, Dar Al Syuruq, Bairut dan juga kitab As Sunnah Qabla At Tadwin, karya Dr. Muhammad ‘Ajaj Al Khathib, Cetakan kelima, Tahun 1401 H, Dar El Fikar, Bairut, dan kitab-kitab hadits serta beberapa referensi lainnya.
[2]. Kami gunakan kata “mereka” disini, karena tuduhan ini juga dilontarkan oleh orang lain, baik di Indonesia atau di negara lainagar lebih bersifat umum. Karena penulis buku Saqifah hanya mengekor dan menukil dari orang lain, diantaranya Abu Rayah (di Mesir) atau orang-orang Syi’ah lainnya.
[3]. Saqifah, op.cit. hlm. 12.
[4]. Ibid. hlm. 20
[5]. Dikutip dari kitab Difa’un ‘An Abu Hurairah, yang merupakan pernyataan Al Ustadz Al Kahthib dalam kitab Abu Hurairah Rawiyatul Islam, hlm. 213.
[6]. Lihat biografi beliau dalam Mabhats majalah ini; Kehidupan Sahabat yang Mulia Abu Hurairah.
[7]. Dikutip dari pernyataan Dr. As Siba’i dalam Sunnah Wa Makanatuha, hlm. 307.
[8]. Saqifah, op.cit. hlm. 11.
[9]. Siar A’lami An Nubala, karya Adz Dzahabi, Tahqiq Syu’aib Al Arnauth, Maktabah Ar Risalah, Bairut, hlm. II/426.
[10]. Musnad Ahmad, no. 16793; Abu Dawud, dalam Sunan-nya, kitab Ath Thaharah, Bab An Nahyu ‘An Dzalika, no. 73, hlm. I/19; An
Nasa’i, dalam Sunan-nya, kitab Az Zinah, Bab Al Akhdzi ‘An Asy Syarib, no. 4968, hlm. I/130 dengan sanad-sanad yang shahih.
[11]. Lihat Riwayat-riwayat tersebut dalam kitab Difa’un ‘An Abi Hurairah, karya Abdul Mun’im Al’Izzi, hlm. 25-26.
[12]. Saqifah, op.cit. 12.
[13]. Ibid, hlm. 14.
[14]. Al Bukhari, dalam Shahih-nya, kitab Al Buyu’, Bab Ma Ja’a Fi Qaulihi Ta’ala Faidza Qadhaita Ash Shalat, no. 1906 - III/135 dan Ahmad bin Hambal dalam Musnad Ahmad, hadits no. 7273.
[15]. Fathul Bari, karya Ibnu Hajar, tanpa tahun, Maktabah As Salafiyah, hlm. V/28.
[16]. Fathul Bari, op.cit. IV/288.
[17]. Dari pernyataan Al Mu’alimi t dalam Al Anwar Al Kasyifah, hlm. 147.
[18]. Lihat pujian Rasulullah kepadanya dalam mabhas Abu Hurairoh dalam pandangan salaf al Sholeh.
[19]. Syarh An Nawawi terhadap Shahih Muslim, Tashhih Syaikh Khalil Ma’mun Syaiha, Cetakan ketiga, Tahun 1317 H, Dar Al Ma’rifah, Baerut, hlm. XV/270.
[20]. Saqifah, op.cit. hlm. 12.
[21]. Shahih Al Bukhari, kitab Ar Riqaq, Bab Kaifa ‘Isy Rasulullah Wa Ashhabihi Wa Takhallihim Min Ad Dunya, no. 5971, hlm. VIII/120.
[22]. Dinukil dari Difa’un ‘An Abi Hurairah, op.cit. hlm. 45-46, dari Al Mustadrak, IV/116.
[23]. Al Bukhari, dalam Shahih-nya, kitab Al Ath’imah, BabAl Halwa Wal Asl, no. 5431, hlm. IX/557.
[24]. Saqifah, op.cit. hlm. 13.
[25]. Thabaqat Ibnu Sa’ad, IV/336 dengan sanad yang shahih.
[26]. Al Amwal, oleh Abu Ubaid, hlm. 269.
[27]. Al Bidayah Wan Nihayah, VlIII/13.
[28]. Al Amwal, oleh Abu Ubaid, hlm. 269. Muhammad ‘Ajaj Al Khathib menyebutkan di halamaan 225 dari Thabaqat Ibnu Sa’ad,105/J.3/Q.2.
[29]. Al Amwal, oleh Abu Ubaid, hlm. 269; dinukil dari Difa’un ‘An Abi Hurairah, op.cit. hlm. 141 dan menyatakan bahwa Muhammad ‘Ajaj Al Khathib menyebutkan di halaman 225 dari Tahabaqat lbnu Sa’ad, 105/J.3/Q.2.
[30]. Difa’un ‘An Abi Hurairah, op.cit. hlm. 140 dan menyatakan bahwa Muhammad ‘Ajaj mengisyaratkan di halaman 225, bahwa Ibnu Abdi Rabbih menyebutkan berita keduanya dalam Al Aqdu Al Farid, I/33.
[31]. Abu Hurairah Rawiyatul Islam, halaman 225; As Sunnah Qabla At Tadwin, halaman 438.
[32]. Al Anwaar Al Kasyifah, karya Abdurrahman Al Mu’allimi, hlm. 213.
[33]. Ibid.
[34]. Al Amwal, oleh Ibnu Ubaid, hlm. 269 dengan sanad yang shahih dari jalan Yazid bin Ibrahim At Tasaturi dari lbnu Sirin, dan kisah itu sendiri dalam Al Mustadrak, 11/ 347 dan Uyunu Al Atsar, I/53. diambil dari Difa’un ‘An Abu Hurairah, op.cit. hlm. 142.
[35]. As Sunnah Qabla At Tadwin, hlm. 438.

Artikel: http://almanhaj.or.id

Kemulian Lain Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

Sungguh menjadi keniscayaan, bahwa mulazamah yang terus-menerus dan persahabatan abadi yang dijalin Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu terhadap Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan hasil. Rasul telah membinanya dengan tarbiyah iman yang tinggi. Hal ini tampak dalam sebagian besar sisi moral dan keilmuannya.

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengarahkan pembicaraannya langsung kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu sebagai seorang murabbi (pendidik), pembimbing (mursyid) sekaligus sebagai guru. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ”Wahai, Abu Hurairah. Jadilah engkau sebagai seorang yang wara, niscaya engkau menjadi orang yang paling mengabdi kepada Allah. Jadilah engkau seorang yang qana’ah (merasa cukup dengan yang dimiliki), niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur. Cintailah untuk manusia apa yang engkau sukai untuk dirimu, niscaya engkau menjadi mukmin. Berbuat baiklah kepada tetangga yang bersebelahan denganmu,niscaya engkau menjadi seorang muslim; dan sedikitlah tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.”

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu memahami wasiat ini dan semangat melaksanakannya. Sehingga kita mengenalnya sebagai orang yang wara, jauh dari gemerlap kehidupan dunia, harta dan hidup sederhana. Dia sangat jauh dari ambisi jabatan kepemimpinan dan fitnah. Kita akan mengetahui, (bahwa) ia sebagai seorang yang mencintai manusia dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. Dia seorang yang memiliki semangat tinggi memahamkan hadits, serta seorang yang selalu berbuat baik kepada tetangganya. Ammar binYasir mengakui keutamaannya ini.

Demikian juga ia berbuat baik kepada tetangganya, yaitu Abdulah bin Syaqiq yang menjadi muridnya setelah itu. Kita pun akan mengetahui, ia seorang yang jauh dari senda gurau. Dia seorang ahli ibadah yang sering menangis, seperti saat disebutkan nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wafatnya Hasan Radhiyallahu ‘anhu dan setelah meninggalnya Utsman Radhiyallahu ‘anhu.

PERHATIAN DAN PENJAGAAN (HAFALAN) ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU TERHADAP AL QUR’AN
Kita menemukan, bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu seorang yang memburu setiap kebaikan. Dia telah mengerahkan segala kesungguhannya untuk mendapatkan kebaikan dan keistimewaan tersebut. Dia menerima pengajaran Al Qur’an secara langsung dari Ubay bin Ka’ab. Sedangkan Ubay bin Ka’ab merupakan salah satu dari empat sahabat yang diakui Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki hafalan Al Qur’an yang bagus.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Mintalah diajarkan Al Qur’an dari empat orang, yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim maula (bekas budak) dari Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal.”

Kemudian dia Radhiyallahu ‘anhu menjadi seorang pengajar Al Qur’an. Dan (yang telah) belajar darinya, yaitu Abu Ja’far Yazid bin Al Qa’qa Al Makhzumi Al Madani, salah seorang dari sepuluh ahli qira’ah yang terkenal; begitu juga Abdurrahman bin Hurmuz Al A’raj. Sedangkan Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim Al Madani, salah seorang imam ahli qira’ah tujuh yang terkenal belajar dan mengambil Al Qur’an dari Al A’raj. Dengan demikian kita mengetahui, bahwa bacaan Al Qur’an yang banyak dikenal di kalangan muslimin, sumbernya berasal dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Tersirat pula dalam pernyataan Ibnu Al Jauzi, bahwa tidak ada seorangpun yang mengalahkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dalam masalah tersebut. Ibnu Al Jauzi berkata, ”Berakhir pada Abu Hurairah bacaan Al Qur’an yang dilakukan Abu Ja’far dan Nafi.”

Dengan demikian Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu telah memancarkan sumber pahala yang tak kunjung padam untuk dirinya. Dia mendapatkan kebaikan pada setiap satu huruf dari Al Qur’an yang dibacanya dan setiap pribadi muslim dari masa tabi’in hingga hari kiamat

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengajarkan Al Qur’an tidak hanya kepada dua orang saja, namun lebih dari itu. Sebagaimana perkataan Maina’ bekas budak Abdurrahman bin Auf, “Aku menerima pengajaran surat Al Baqarah dan surat Ali Imran dari lisan Abu Hurairah.”

BANYAKNYA IBADAH ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU
Dari Abu Utsman An Nahdi, ia berkata,”Aku pernah bertamu kepada Abu Hurairah selama tujuh hari. Dan menjadi kebiasaan Abu Hurairah, isteri dan pembantunya untuk saling bergantian menjadikan malam tiga bagian.Seorang dari mereka shalat kemudian membangunkan yang lainnya …”

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu sendiri menjelaskan kegiatan pada setiap malamnya, ”Aku membagi malam menjadi tiga bagian. Sepertiganya kugunakan untuk tidur, sepertiganya untuk shalat, dan sepertiga lainnya aku pergunakan untuk mengulang-ulang hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”

ABU HURAIRAH SEORANG YANG BERAMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR
Sudah menjadi kebiasaan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pergi menuju masjid-masjid kaum Anshar yang tersebar di penjuru kota Madinah untuk mengajarkan dan memperdengarkan kepada mereka hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti kepergiannya ke masjid Bani Zuraiq dan mengajar disana. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang orang dari Bani Zuraiq yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah.

Imam Al Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang dari Bani Amir telah melewati Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , lalu ada yang mengatakan : “Orang ini adalah yang paling banyak hartanya”, maka Abu Hurairah memanggilnya, seraya menanyakan hal tersebut. Ia menjawab, ”Benar, aku memiliki 100 ekor unta merah dan 100 ekor onta berwarna kecoklatan dan sekian banyak ekor kambing.” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hati-hatilah kamu dari kaki-kaki onta dan kaki-kaki kambing tersebut. Sebab aku mendengar Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ……,” kemudian Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu memaparkan hadits yang panjang tersebut berisi diinjak-injaknya (pemilik harta onta dan kambing) dengan kaki onta dan kambing tersebut jika mendzaliminya. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim tanpa kisah laki-laki dari Bani Amir (Al Amiri) tersebut.

Imam Al Haitsami mengutip satu kisah, bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu melewati pasar Madinah, lalu ia berhenti di tempat itu, ia berkata,”Wahai, penghuni pasar. Alangkah tidak mampunya kalian.” Mereka menimpali, ”Apa itu, wahai Abu Hurairah?” Ia menjawab,” Itu, peninggalan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dibagi-bagi, sedangkan kalian ada disini? Tidakkah kalian mendatanginya, lalu mengambil bagian kalian?” Mereka bertanya,”Dimanakah dia?” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menjawab,”Di masjid.” Maka mereka pun bergegas keluar menuju masjid, sedang Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu tetap berdiri menunggu mereka kembali. Ia bertanya kepada mereka, ”Apa yang kalian dapati?” Mereka menjawab,”Wahai, Abu Hurairah. Kami telah mendatangi masjid dan memasukinya, namun tidak melihat sesuatu sedang dibagi disana.” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Tidakkah kalian melihat seseorang di masjid?” Mereka menjawab,”Benar, kami melihat sekelompok orang sedang shalat, sekelompok membaca Al Qur’an dan sekelompok lainnya sedang mempelajari perihal halal dan haram.” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Celakalah kalian. Itulah peninggalan Rasulullah.”

BAKTI ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU KEPADA IBUNYA
Tiada bakti yang lebih besar dari menyelamatkan orang tua dari api neraka. Tiada pula do’a yang paling tepat dan berharga yang dipanjatkan untuk sahabat atau salah seorang keluarga lebih dari do’a mendapatkan hidayah dan keimanan. Dari sini sudah sepantasnya kita memahami, betapa besarnya bakti Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu kepada ibunya ketika ia berharap keislaman ibunya dan menjadi penyebab ibunya masuk Islam.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, ”Aku mendakwahi ibuku agar memeluk agama Islam, sedangkan ia masih musyrik. Pada suatu hari, aku mendakwahinya. Lalu ia menyatakan sesuatu kepadaku tentang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membuatku benci (mendengarnya). Akhirnya aku mendatangi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menangis di hadapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata,”Wahai, Rasulullah. Sungguh aku telah mendakwahi ibuku agar masuk Islam, namun ia enggan mengikuti ajakanku. Hingga akhirnya, pada suatu hari aku mendakwahinya, namun ia (justru) menyatakan sesuatu kepadaku tentang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang aku benci (mendengarnya). Karenanya mintalah kepada Allah agar menunjuki ibu Abu Hurairah.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Ya, Allah. Berilah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Aku pun meninggalkan rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh kegirangan atas do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi ibuku. Ketika sampai di rumah, aku langsung berdiri di depan pintu, ternyata pintu terkunci. Lalu ibuku mendengar suara hentakan kakiku, lalu (ia) berkata,”Tetaplah disitu (tunggulah), wahai Abu Hurairah.” Aku pun mendengar suara gemericik air, ternyata ia mandi, kemudian mengenakan baju dan bersegera mamakai jilbabnya dan membukakan pintu untukku, seraya berkata,”Wahai, Abu Hurairah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar, kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya.” Abu Hurairah berkata,”Aku pun kembali menemui Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menangis karena bahagia.” Aku berkata,”Wahai, Rasulullah. Berbahagialah, sungguh Allah telah memenuhi dan mengabulkan do’a anda, dan ibuku telah mendapatkan petunjuk.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sllam memuji Allah dan mengagungkanNya, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Baiklah.”

Gambaran yang paling menakjubkan tentang kecintaan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu kepada ibunya, adalah berita yang disampaikan kepada kita oleh Abdullah bin Wahb dalam kitab Jami’inya dari jalan Abdullah bin Lahi’ah dari Khalid bin Yazid dari Sa’id bin Abu Hilal, ia berkata: Setiap hari Abu Hurairah menemui ibunya dan berkata,”Terima kasih untukmu, wahai ibuku. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu kecil.” Maka ibunya berdoa,”Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku ketika usiaku telah senja.” Kisah ini juga dibawakan Imam Bukhari.

TAWADHU (KERENDAHAN HATI) ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU DENGAN ILMU YANG DIMILIKINYA
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang paling banyak hafalannya dari kalangan sahabat, namun hal itu tidak membuatnya bangga diri. Ibnu Abu Syaibah telah meriwayatkan dalam Al Mushannaf tentang pernyataan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu kepada Ibnu Abbas yang merupakan sahabat muda (ashgharush shahabat): “Anda lebih baik dariku dan lebih paham tentang Islam daripada aku”.

Dalam bentuk lain, kita melihat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu tawadhu di hadapan tabi’in besar Amr bin Aus Ats Tsaqafi (wafat tahun 75 H). Abu Hurairah berkata kepada sekelompok orang yang telah bertanya kepadanya, padahal diantara mereka terdapat Abdurrahman bin Nafi bin Labibah: “Kalian bertanya kepadaku, padahal di tengahtengah kalian ada Amr bin Aus?!”

KETELITIAN DAN KELAYAKAN ABU HURAIRAH BERFATWA
Ibnu Hazm menyebutkan ada tigabelas orang sahabat yang fatwa-fatwa mereka diriwayatkan. Dia menempatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu di urutan keempat. Sedangkan yang lainnya adalah Ummu Salamah, Anas, Al Khudri, Utsman, Abdullah bin Amru, Ibnu Az Zubair, Abu Musa, Sa’ad, Salman, Jabir, Mu’adz dan Abu Bakar. Kemudian ia berkata,”Mereka hanya tigabelas orang saja, yang memungkinkan fatwa-fatwa dari mereka dikumpulkan dalam juz yang kecil.” Kemudian ia menambahkan tujuh orang lainnya. Sekalipun demikian, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu sangat takut dan malu mengeluarkan fatwa. Karena termasuk sifat dan tabiat kaum mukminin adalah tatsabut (bersikap hati-hati) dalam berfatwa. Sehingga banyak para salaf yang enggan berfatwa dan tidak mau menjawab jika ada orang lain yang lebih layak untuk menjawabnya.

Imam Ad Darimi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa berfatwa sebelum yakin akan kebenarannya, maka dosanya bagi yang berfatwa.”

Rasa takut dan kekhawatiran Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dalam berfatwa, telah membuatnya selalu bertanya jika tidak mantap dalam berfatwa; (ini) berbeda dengan orang-orang yang mencelanya.

Al Bukhari telah meriwayatkan satu kisah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata ketika ditanya penduduk Bahrain tentang hukum memakan daging ikan yang telah mati terapung di laut. Ia menjawab: “Tidak mengapa”. Lalu iapun bertanya kepada Umar, dan Umar menjawab dengan jawaban yang sama.

ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU SEORANG YANG DERMAWAN, MEMERDEKAKAN HAMBA, BERBUAT BAIK KEPADA BEKAS BUDAKNYA DAN MENYANTUNI ANAK YATIM
Dari Ath Thahawi, ia berkata,”Aku singgah menjadi tamu di rumah Abu Hurairah di Madinah. Aku belum pernah melihat seorangpun dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih bersegera menyambut dan menghormati tamunya darinya Radhiyallahu ‘anh .”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari jalan Al Waqidi, bahwa Abu Hurairah menetap di Dzulhulaifah dan memiliki rumah di kota Madinah yang dishadaqahkan kepada para mantan budaknya.

Demikian juga Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu seorang penyantun anak yatim yang bernama Mu’awiyah bin Mut’ib Al Hudzali. Ia memelihara dan mengajarkan semua yang diketahuinya, sampai akhirnya menjadi salah satu tabi’in terkenal. Mu’awiyah ini memiliki banyak riwayat hadits dari Abu Hurairah dalam Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya.

Perihal ini menunjukkan, bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berada diantara dua kondisi. Pertama. Dia memiliki harta dan menginfakkannya di jalan Allah, memerdekakan hamba, membantu yang membutuhkan, dan menyantuni anak yatim. Yang kedua. Dia tidak mempunyai harta dan membutuhkannya, lalu bersabar dan merasa cukup dengan kemudahan yang diberikan Allah, atau menerima pemberian dari baitul mal kaum Muslimin. Bila mendapatkannya, ia memberikan kepada orang lain ataupun ikut serta menikmatinya.

Kedua keadaan ini, baik yang pertama maupun yang kedua, tidak ada yang mampu menjalaninya, kecuali orang-orang yang ikhlas.

TARBIYAH ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU KEPADA ANAKNYA
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu mengajak dan membiasakan isteri serta anak-anaknya untuk zuhud, hidup sederhana dan beramal shalih. Dia Radhiyallahu ‘anhu mendidik puteranya Al Muharrar dengan pendidikan ilmiah, yang menjadikannya sebagai seorang perawi handal, yang kaum muslimin membutuhkan dan meriwayatkan hadits-hadits darinya yang belum didapatkan dari ayahnya (Abu Hurairah), seperti Imam Asy Sya’bi dan Az Zuhri.

Dia membiasakan pula puterinya hidup zuhud dan sederhana. Berikut petikan nasihatnya: “Wahai, anakku. Janganlah engkau mengenakan perhiasan emas. Sebab, ayahmu ini khawatir api yang menyala-nyala akan menimpamu Wahai, anakku. Dan janganlah engkau mengenakan sutera. Sebab, ayahmu ini mengkhawatirkanmu terbakar api neraka”.

PERNIKAHAN ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU
Dia seorang yang hidup pada masa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggal bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak disibukkan dengan wanita. Namun, setelah Rasulullah n wafat, dia menikahi Bisrah binti Ghazwan Al Maziniyah. Bishrah seorang sahabiyah saudara ‘Utbah bin Ghazwan Al Mazini Radhiyallahu ‘anhu seorang sahabat terkenal dan Gubernur Bashrah.

ANAK-ANAK ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU
Para pakar sejarah menyebutkan, bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu memiliki empat orang anak laki-laki dan seorang perempuan. Yang paling terkenal dan paling tua adalah Al Muharrir.

Imam Al Bukhari dan Ibnu Abi Hatim telah menulis sejarah singkatnya, begitu juga Ibnu Hajar dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Sa’ad bercerita:”Al Muharrir bin Abu Hurairah zmeninggal di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Dia meriwayatkan hadits dari ayahnya, namun termasuk orang yang sedikit meriwayatkan hadits”.

Abu Hurairah ra juga mempunyai anak lainnya yang sering dipanggil dengan nama Muharriz. Al Bukhari dan Abul Faraj menyebutkan dalam kitabnya. Dia termasuk yang meriwayatkan hadits dari ayahnya. Sedangkan anak ketiganya adalah Abdurrahman bin Abu Hurairah. Imam Al Bukhari, Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Hibban mencantunkan biografinya (dalam kitab mereka). Anak ke empat bernama Bilal. Ibnu Abu Hatim dan yang selainnya menyebutkan hal ini. Bilal mempunyai anak yang bernama Muharrir bin Bilal.

Adapun saudara perempuan mereka namanya tidak dikenal. Akan tetapi, Ibnu Sa’ad menceritakan bahwa Sa’id bin Al Musayyib telah menikahinya.

ORANG-ORANG YANG TELAH DIMERDEKAKAN ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu memiliki budak yang dimerdekakan ketika ia sampai di Khaibar pada awal hijrahnya. Dalam kisah ini terdapat dalil yang menunjukkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bukanlah seorang faqir ketika hijrahnya. Namun, ia menjadi faqir pada masa-masa Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena memilih bermulazamah (tetap setia bersama) di Shuffah daripada bekerja dan sibuk berdagang di pasar. Kemudian, setelah itu ia memiliki mawali (budakbudak yang telah ia merdekakan). Ada sejumlah mawalinya yang terkenal, diantaranya ialah: Abu Maryam, Abu Yunus Sulaim atau Sulaiman bin Jabir atau Jubair, Ibrahim bin Muhammad, Abdurrahman bin Mihran dan Tsabit bin Musykil

ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU BERPISAH DENGAN KEHIDUPAN DUNIA
Sekarang, kita menceritakan akhir seorang guru yang telah berusia lanjut mendekati usia delapan puluhan, yang sesaat lagi akan menghadap Allah Ta’ala setelah menunaikan amanah yang ada di pundaknya dan menyebarkan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengajarkan kepada manusia.

Ketika berada di atas tempat tidur menghadapi kematian, ia menangis. Maka ditanyakan kepadanya: Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Hurairah?” Dia menjawab,”Aku sesungguhnya tidak menangisi unia kalian ini. Namun aku menangis karena jauhnya perjalanan, sedangkan perbekalanku sedikit. Aku sekarang berada dalam tangga yang curam, antara surga dan neraka. Aku tidak tahu berjalan ke arah mana dari keduanya,”kemudian ia berwasiat,”Jika aku meninggal, janganlah kalian meratapiku; sebab Rasulullah n tidak pernahmeratapi kematian.”

Lalu Marwan masuk menjenguknya sebelum saat-saat kematian dan berkata,”Mudah-mudahan Allah memberimu kesembuhan, wahai Abu Hurairah,” akan tetapi Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menghadap ke arah lain dan tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Marwan. Dia menoleh untuk bermunajat kepada Allah dengan penuh keyakinan. Dia telah mengisi kehidupannya dengan berbagai macam amal kebaikan, yang menanti rahmat Allah, seraya berdo’a:”Ya, Allah. Sesungguhnya aku sangat gembira bertemu denganMu, maka bersenanglah untuk bertemu denganku.” Al Muqbiri berkata,”Belum sampai sahabat Marwan melangkahkan kakinya, Abu Hurairah pun telah meninggal dunia,” namun kenangan baik tentangnya akan tetap tersimpan di hati kaum mukminin hingga hari kiamat.

Terjadi perbedaan pendapat tentang tahun kematiannya. Ada yang menyatakan, wafatnya tahun 57 H dan ada yang menyatakan bahwa wafatnya pada tahun 58 H, serta ada yang menyatakan wafatnya tahun 59 H.

Dia meninggal di Al Aqiq, lembah yang berdampingan dengan Madinah dan dikuburkan di Baqi’ di Madinah. Al Walid bin ‘Utbah bin Abi Sufyan menjadi imam dalam shalat jenazahnya. Saat itu ia menjabat sebagai gubernur wilayah Madinah pada masa pemerintahan Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu.

Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu dan Marwan bin Al Hakam berjalan di depan jenazah. Begitu juga Ibnu Umar ikut serta mengiringi jenazah Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berjalan di depan jenazah dengan memperbanyak mengucapkan “Rahimahullah” atas Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, seraya berkata: “Dia termasuk penjaga hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untukkaum muslimin”.

Kemudian Al Walid bin ‘Utbah menulis surat kepada Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu, mengabarkan kematian Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Mu’awiyah pun membalasnya seraya berpesan: “Lihatlah, siapa saja yang ditinggalkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dan serahkan kepada ahli warisnya 10.000 dirham serta perlakukanlah mereka dengan baik, dan berbuat baiklah kepada mereka; sebab, ia termasuk orang yang membela Khalifah Utsman dan berada di rumah Utsman”.

Mudah-mudahan Allah merahmati dan meridhainya. Hanya orang -orang dengki dan tidak tahu malu yang terus berusaha mendiskreditkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu -Red.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Artikel: http://almanhaj.or.id

Penghuni Shuffah

Oleh
DR. Akram Dhiyâ’ al-Umari


Kaum muslimin yang telah menempuh perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah menghadapi beberapa permasalahan sosial. Kedatangan mereka yang tanpa perbekalan memadai ke suatu daerah agraris yang sangat berbeda dengan daerah asal yang gersang menjadi faktor pemicu. Intinya, mereka membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pemukiman.

Persaudaraan (almuâkhâh) yang dijalin oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam antara kaum Muhâjirîn dan Anshar sudah merupakan salah satu solusi untuk meminimalisir problematika di atas. Kaum Anshar sudah mencurahkan segala kemampuan dalam rangka membantu kaum Muhâjirîn. Namun sebagian kaum Muhâjirîn ini masih membutuhkan tempat tinggal. Ditambah lagi, intensitas gelombang hijrah yang tak kunjung berhenti, terutama sampai menjelang perang Khandaq. Tak diragukan, bila kondisi ini mendorong Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai memikirkan tempat berteduh bagi orang-orang fakir yang sudah menetap di Madinah.

ASAL BANGUNAN SHUFFAH
Momen yang tepat pun datang. Manakala perintah pengalihan arah kiblat datang dari arah Masjidil Aqsha ke arah Ka’bah [1], akibatnya tembok yang sebelumnya berada di depan, kini menjadi di belakang masjid. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar tempat itu diberi atap. Akan tetapi, bagian sisi-sisi pinggirnya masih dibiarkan terbuka tanpa tembok penutup. Itulah tempat yang kemudian dikenal dengan shuffah yang akan menjadi tempat tinggal bagi kaum Muhâjirîn yang papa.

Secara pasti, tidak diketahui berapa luas shuffah. Tapi yang jelas, tempat itu bisa menampung banyak orang. Sampai-sampai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjadikan tempat itu sebagai tempat walîmah (acara makan makan) yang dihadiri oleh 300 orang, meski sebagian yang hadir terpaksa duduk di kamar sebagian istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berdempetan
dengan masjid.[2]

PENGHUNI SHUFFAH
Yang pertama kali tinggal di Shuffah adalah kaum Muhajirin [3]. Oleh karena itu, terkadang shuffah ini melekat dengan mereka hingga juga dikenal dengan sebutan Shuffatul Muhâjirîn [4] Tempat ini juga menjadi tempat persinggahan para utusan yang hendak menjumpai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyatakan keislamannya dan kesiapannya menaati Rasulullah Shalalllahu 'alaihi wa salam [5]. Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang dipercaya sebagai penanggung jawab orang-orang yang tinggal di Shuffah, baik yang menetap dalam jangka waktu yang lama ataupun yang sekedar singgah saja.

Penghuni shuffah ini tidak hanya terdiri dari kaum Muhâjirîn ataupun para utusan saja. Sebagian Sahabat dari kalangan Anshâr juga menghuninya. Kendatipun mereka telah memiliki rumah di Madinah dan memiliki harta yang cukup. Kemauan mereka untuk hidup zuhud menjadi alasan mengapa mereka memilih tinggal di Shuffah. Diantaranya, Ka’ab bin Mâlik al Anshâri Radhiyallahu anhu, Hanzhalah bin Abi ‘Amir Radhiyallahu 'anhu, dan Hâritsah bin Nu’mânz.

JUMLAH PENGHUNI SHUFFAH
Jumlah penghuni shuffah tidak stabil. Jumlah mereka akan bertambah seiring dengan peningkatan angka pendatang ke Madinah. Namun dalam kondisi normal, jumlah penghuninya sekitar 70 orang. [6] Terkadang jumlah mereka meningkat tajam. Pernah dalam satu kesempatan, seorang diri Sa’ad bin ‘Ubâdah Radhiyallahu 'anhu menjamu 80 penghuni shuffah. Hitungan ini belum mencakup yang dijamu oleh para Sahabat yang lain. [7]

Penyusun Kitab al-Hilyah, Abu Nu’aim menyebutkan nama-nama mereka satu persatu. Diantara mereka adalah Abu Hurairah, Abu Dzaarr al-Ghifâri, Wâtsilah bin Asqa’, Salmân al-Fârisi g dan lain sebagainya.

KESIBUKAN PENGHUNI SHUFFAH : BELAJAR ILMU AGAMA, BERIBADAH DAN BERJIHAD
Para penghuni Shuffah ini mengfokuskan diri untuk belajar, beri’tikaf di masjid dalam rangka beribadah dan sudah terbiasa dengan hidup kekurangan. Mereka senantiasa melaksanakan shalat, membaca al-Qur‘ân, mempelajari ayat-ayatnya, berdzikir. Sebagian mereka belajar baca tulis. Sampai salah satu dari mereka ada yang menghadiahkan busur panahnya kepada ‘Ubâdah bin Shâmit Radhiyallahu 'anhu karena beliau Radhiyallahu 'anhu berjasa mengajarkan al-Qur‘ân dan menulis kepada pemilik busur tersebut.

Disebabkan oleh konsentrasi penuh mereka dalam belajar agama, maka tidak heran kalau kemudian lahir orang-orang yang menonjol keilmuannya dari mereka. Sebut saja Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, seorang Sahabat yang terkenal dengan hafalan hadits yang sangat banyak. Atau Sahabat Hudzaifah ibnul Yamân Radhiyallahu 'anhu yang sangat perhatian tentang hadits hadits fitnah.

Namun ini bukan bermakna bahwa mereka tidak peduli dengan kegiatan kemasyarakatan dan tidak memiliki andil dalam jihad. Terbukti, sebagian diantara mereka gugur dalam perang Badr, seperti Shafwân bin Baidha’, Khubaib bin Yasâf, Sâlim bin ‘Umair dan Hâritsah bin Nu’mân al-Anshâri Radhiyallahu 'anhu. Sebagian juga gugur di medan perang Uhud yaitu Khanzhalah Radhiyallahu 'anhu, atau menghadiri peristiwa Hudaibiyah, perang Khaibar, perang Tâbuk dan perang Yamâmah. Begitulah para penghuni Shuffah. Mereka sangat perhatian terhadap ilmu dan ibadah. Di malam hari tekun beribadah dan di siang hari menjadi pejuang gagah berani.

PAKAIAN DAN MAKANAN MEREKA
Mereka yang tinggal di Shuffah sudah terbiasa dengan hidup kekurangan. Kebanyakan mereka tidak memiliki pakaian yang memadai untuk menutupi seluruh badan dan melindunginya dari dinginnya udara. Dalam Shahîh al-Bukhâri, Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menceritakan :

"Saya melihat 70 orang dari penghuni shuffah, tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengenakan rida‘ (kain penutup bagian atas tubuh). Hanya mengenakan sarung atau hanya kisa saja’. Mereka mengikatkan kisa’ tersebut pada leher mereka, ada yang menjulur sampai separuh betis, ada yang sampai mata kaki. Lalu dia menyatukannya dengan tangan karena khawatir auratnya terlihat".

لَقَدْ رَأَيْتُ سَبْعِينَ مِنْ أَصحَابِ الصّثفَّةِ مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ عَلَيْهِ رِدَاءٌ إِمَّا إزَارٌ وَإِمَا كِسَاءٌ قَدْ رَبَطُوا فِي أَعْنَا قِهِمْ فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ نِصْفَ السَّا قِيْنِ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الْكَبَيْنِ فَيَجْمَعُهُ بِيَدِهِ كَرَاهِيَةَ أنْ تُرَى عَوْ رَتُهُ

Demikian pula makanan mereka, tidak lebih baik dari kondisi pakaian yang mereka sandang. Kurma kering adalah makanan yang sering mereka konsumsi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan setengah mud (kurang lebih satu genggam) kurma untuk satu orang setiap hari. Sampai ada diantara mereka yang merasakan perutnya panas karena terlalu banyak makan kurma kering. Namun begitu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mampu memberikan makanan yang lebih baik buat mereka. Hanya saja, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memotivasi mereka agar tetap tegar dan bersabar. Terkadang mereka diundang untuk makan-makan atau dibawakan susu atau terkadang juga mendapat hidangan istimewa seperti tsarîd (bubur gandum dengan campuran minyak samin dan lain-lain).

PERHATIAN NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM KEPADA PENGHUNI SHUFFAH
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat perhatian terhadap mereka. Seringkali, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sering mengunjungi mereka, menanyakan kondisi mereka, mengarahkan, duduk-duduk bersama, mengarahkan mereka agar banyak membaca al-Qur‘ân, memotivasi mereka agar memandang dunia itu remeh dan tidak berharap untuk merengkuhnya. Jika ada yang mengirimkan sedekah kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam lantas mengirim seluruhnya kepada mereka. Kalau hadiah yang beliau terima, sebagiannya beliau kirimkan dan sisanya beliau ambil buat keperluan pribadi atau hadiah tersebut dinikmati bersama mereka.[8]

Ketika putri beliau, Fâthimah Radhiyallahu 'anha melahirkan Hasan Radhiyallahu 'anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruhnya bersedekah untuk penghuni Shuffah dengan perak seberat rambut Hasan yang dicukur [9]. Dalam riwayat Imam Ahmad rahimahullah, diceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih mengutamakan penghuni Shuffah ketimbang keluarga beliau sendiri yaitu Fâthimah Radhiyallahu 'anhuma.

Wujud perhatian yang lain, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para Sahabat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih agar bersedekah kepada penghuni Shuffah. (Redaksi).

(Disadur dari as Sîratun Nabawiyyah ash Shahîhah, DR. Akram Dhiyâ’ al-Umari, hlm. 257 - 268)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Kaum Muslimin menghadap arah Masjidil Aqsha dalam sholat selama 16 bulan pasca hijrah Rasulullah ke Madinah
[2]. HR Muslim, Kitâb Nikâh, no. 94
[3] Samhudi, Wafâ-ul Wafâ, 1/323
[4]. HR Abu daud, Kitâbul Harûf, 2/361
[5]. HR Bukhâri, Kitâbus Shalât, Bâbu Naumir rijâl Fil Masjid dan riwayat Ibnu Mâjah, Sunan, Kitâbus Shaid, Bâbud Dhab
[6]. Abu Nu’aim, al Hilyah, 1/339, 341
[7]. Abu Nu’aim, al Hilyah, 1/341
[8]. HR al-Bukhâri
[9]. Al Baihaqi, Sunan 9/304

Artikel: http://almanhaj.or.id

Riwayat-Riwayat Yang Menceritakan Kejelekan Sahabat

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin


Adanya riwayat-riwayat serta atsar-atsar yang menceritakan kejelekan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan peluang besar bagi musuh-musuh Islam, baik dari dalam maupun dari luar, untuk berebut menghancurkan pilar-pilar Islam. Para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum adalah sanad pertama bagi sampainya Islam kepada seluruh kaum Muslimin di dunia. Jika sanad ini runtuh, maka runtuhlah kepastian kebenaran Islam. Pada gilirannya, kaum Muslimin pun tidak akan memiliki persepsi yang satu tentang Islam. Mereka akan berselisih pemahaman, dan akhirnya akan terpecah belah. Maka terpuruklah mereka.

“Perbedaan persepsi, perselisihan paham dan perbedaan madzhab akan mengakibatkan perpecahan fisik”. [1] Apalagi jika masalahnya menyangkut masalah prinsip ajaran Islam.

Sebelum menjawab secara garis besar tentang riwayat-riwayat ini, perlu diingatkan kembali, bahwa kewajiban setiap orang beriman ialah memuji, mendoakan, memohonkan ampun, menyanjung, serta tidak mencela sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Itulah sikap Ahlu Sunnah wal-Jama’ah terhadap para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Dalil-dalil tentang itu sangat banyak dan sudah banyak ditulis.

Intinya, Ahlu Sunnah wal-Jama’ah selalu selamat lidah dan hati mereka dari cercaan, celaan, kebencian dan kedengkian tehadap para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Allah memberikan sifat kepada Ahlu Sunnah sebagai orang-orang yang selamat hati dan lidah mereka terhadap para sahabat ini dengan firman-Nya:[2]

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (sesudah Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudarasaudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.” [ al-Hasyr/59:10]

Berkenaan dengan ayat ini, Imam Syaukâni rahimahullah menjelaskan:
Barang siapa yang tidak memohonkan ampun kepada Allah untuk para sahabat secara keseluruhan, serta tidak memohonkan ridha Allah untuk mereka, berarti ia telah menyalahi perintah Allah dalam ayat ini. Jika seseorang mendapati suatu kebencian dalam hatinya terhadap sahabat, berarti ia telah tertimpa godaan setan dan telah dikuasai kemaksiatan yang besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ia telah melakukan permusuhan kepada wali-wali Allah, generasi terbaik umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan telah terbuka baginya pintu kehinaan yang akan mengantarkannya masuk ke dalam neraka Jahanam, jika ia tidak segera memperbaiki dirinya dengan berlindung dan meminta pertolongan kepada Allah, supaya Allah mencabut kedengkian yang mewarnai hatinya kepada generasi terbaik dan paling utama itu.

Jika kemudian, kedengkian yang ada dalam hatinya itu meluap hingga melahirkan cacian pada mulut terhadap salah seorang di antara mereka, berarti ia telah takluk pada kendali setan dan telah terjerumus ke dalam kemurkaan Allah. Penyakit akut ini hanya menimpa orang-orang yang termakan oleh ajaran Râfidhah (Syi’ah) atau terperangkap menjadi kawan bagi musuh-musuh Sahabat. Dia dipermainkan dan ditipu oleh setan dengan kedustaan-kedustaan, cerita-cerita bohong, serta kisah-kisah khurafat (tentang Sahabat). Setan telah memalingkan mereka dari Kitab Allah, kitab yang tidak bisa disentuh oleh kebatilan, baik dari arah depan maupun dari arah belakang.[3]

Berikut ini ialah penjelasan mengenai riwayatriwayat yang menceritakan kejelekan dan kesalahan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Dan dalam menghadapi riwayat riwayat yang menceritakan kejelekan dan kesalahan para sahabat, maka ada banyak hal yang harus diperhatikan:

1. Banyak di antara riwayat itu yang dusta dan palsu, seperti pemalsuan-pemalsuan riwayat yang dilakukan oleh kaum Râfidhah. Riwayat-riwayat dusta dan palsu, tentu tidak perlu lagi diperhatikan.

2. Riwayat-riwayat itu sudah banyak ditambah, dikurangi atau dirubah dari yang semestinya. Sementara itu, keutamaan para sahabat serta keadilan mereka merupakan perkara yang pasti dan meyakinkan, sehingga perkara pasti dan meyakinkan ini, tidak bisa ditinggalkan hanya karena mengikuti riwayat yang kebenarannya sudah tercampur aduk dengan kebatilan.

3. Riwayat-riwayat yang shahîh tentang kesalahan para sahabat, maka dalam hal ini, mereka ma’dzûr (termaafkan). Sebab mereka melakukannya karena ijtihad -dan mereka adalah para mujtahid yang lebih berhak untuk berijtihad dibanding para mujtahid sesudahnya. Sedangkan ijtihad dari ahli ijtihad, apabila benar, maka mendapat dua pahala. Dan apabila salah, maka mendapat satu pahala, sedangkan kesalahannya dalam berijtihad dimaafkan oleh Allah.

Dalam Shahîh Bukhâri dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَ حَكَمَ الْحَا كِمُ فَا جْتَهَدَ ثُمَّ أصَابَ فَلَهُ أ جْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَا جْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أ جْرٌ

Apabila seorang hakim memutuskan hukum, ia berijtihad (dalam hukum itu) lalu benar ijtihadnya, maka ia mendapat dua pahala. Dan apabila ia memutuskan hukum, ia berijtihad (dalam hukum itu), kemudian ijtihadnya salah, maka ia mendapat satu pahala. [4]

4. Para sahabat ialah manusia biasa, yang secara individual kadang melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang lain pada umumnya. Secara individual, mereka tidak ma’shum dari dosa kecil maupun besar. Tetapi jika seseorang di antara mereka melakukan dosa atau kesalahan, maka ia memiliki berbagai macam penghapus dosa. Di antaranya berikut ini:

• Mereka memiliki hasanât (amal-amal kebaikan yang banyak) yang sudah terlebih dahulu dilakukan sebelum terpeleset dalam kesalahan. Juga memiliki keutamaan-keutamaan yang sangat banyak. Dimana hasanât dan keutamaan-keutamaan ini akan menghapuskan dosa-dosa yang mungkin dilakukannya. Misalnya kisah Hâthib bin Abi Balta’ah. Imam Bukhâri dan Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahîh masing-masing, bahwa Hâthib bin Abi Balta’ah hendak memberitahukan kepada orang-orang musyrik Quraisy tentang rencana penyerangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Mekah pasca perdamaian Hudaibiyah, dengan maksud supaya orang-orang musyrikin melindungi keluarganya yang masih tinggal di Mekkah. Tetapi hal itu diketahui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dasar wahyu, dan wanita musyrik yang menjadi suruhan Hâthib berhasil ditangkap.

Ketika ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu ‘anhu menawarkan diri untuk menghabisi Hâthib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدرًا وَمَا يُدْ رِيكَ لَعَلَّ اللَّه اطَّلعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْ تُ لَكُمْ

Sesungguhnya Hâthib telah turut serta dalam perang Badar. Tahukah engkau bahwa Allah telah menganugerahkan kedudukan kepada Ahli Badar? Sehingga Allah berfirman kepada mereka (artinya): “Lakukan apa saja yang kalian kehendaki, sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa-dosa kalian”? [5]

Kisah ini menunjukkan, betapapun besar kesalahan Hâthib Radhiyallahu ‘anhu, namun ia memiliki hasanât yang dapat menghapuskan kesalahan itu. Di antaranya ialah hasanât mengikut perang Badar. Membocorkan rahasia perang merupakan suatu kejahatan besar. Namun Hâthib tetap diampuni dosa-dosanya oleh Allah, karena beliau merupakan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki keutamaan besar dan memiliki penghapus-penghapus dosa. Maka, tidak ada seorang pun sesudah beliau yang berhak mencercanya. Radhiyallâhu ‘anhu wa ‘an Jamî’I ash-Shahâbah. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam surat Hûd/11 ayat 114:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.

Jika hasanât yang dilakukan oleh selain sahabat saja dapat menghapuskan dosa-dosa yang ia lakukan, apalagi jika hasanât itu dilakukan oleh para sahabat.

• Sesungguhnya pelipatgandaan nilai hasanât yang mereka miliki akan lebih banyak daripada orang lain sesudah mereka, sebab mereka adalah generasi terbaik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُو نَهُمْ ثُمَّ الَّذيْنَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orangorang yang sesudahnya lagi.[6]

• Banyak sekali penghapus dosa yang dimiliki sahabat, merupakan sesuatu yang tidak dimiliki oleh generasi sesudahnya. Misalnya: taubat, amal amal kebaikan yang banyak, syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau musibah duniawi yang dapat menghapus dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يَهُمُّهُ إِلاَّ كُفَّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَا تِهِ

Tidaklah menimpa kepada seorang mukmin, baik sakit berkepanjangan, kepayahan hidup, tidak sehat, kesedihan, bahkan kegundahan yang mengganggunya, kecuali dengan sebab itu, kesalahan-kesalahannya akan dihapuskan.[7]

Jika selain Sahabat dapat terhapuskan dosanya disebabkan musibah yang menimpanya, maka terlebih lagi para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum

5. Apabila dosa serta kesalahan sahabat yang jelas jelas saja diampuni dosanya, maka apalagi kesalahan-kesalahan yang masih dugaan yang diakibatkan karena ijtihad.

Jadi kesimpulannya, kesalahan yang dialami sahabat, disamping begitu sedikitnya kesalahan itu, hanya terjadi dalam dua kemungkinan. Pertama, karena ijtihad yang salah. Dalam hal ini, mereka tetap mendapat pahala, sedangkan kesalahannya mendapat ampunan. Kedua, kesalahan yang bukan karena ijtihad. Dan ini lenyap dengan banyaknya hasanât serta keutamaan luar biasa yang dimiliki Sahabat.

Di antara keutamaan besar Sahabat, secara garis besar sebagai berikut :
• Iman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini merupakan amal paling utama.
• Jihad fi sabilillah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi kalimat Allah, dan ini merupakan dzirwah sanami al-Islam (puncak Islam tertinggi).
• Hijrah fi Sabilillah. Ini termasuk amal yang paling utama.
• Membela Dinullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang mereka:

وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. [al-Hasyr/59:8].

• Ilmu nafi’ (bermanfaat) yang dimiliki oleh para Sahabat dan amal shalih mereka.
• Para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umat terbaik sesudah para nabi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

• Mereka adalah generasi umat Islam terbaik.

Demikianlah, semoga makalah ini dapat menjadi sumbangsih bagi upaya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Islam, upaya menjaga keutuhan ajaran Islam, dan upaya memahamkan kepada umat tentang kedudukan tinggi para sahabat, sehingga umat tidak mudah dipengaruhi oleh kedustaan para musuh sahabat yang dihembuskan secara lembut.

Nas’alullâha at-Taufiq wa as-Sadad.

Marâji’:
1. Al-I’tishâm, Imam asy-Syâthibi. Tahqîq: Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilâli, Dâr Ibnu al-Qayyim dan Dâr Ibnu ‘Affan, Cetakan II, 1427 H/2006 M.
2. Fathu al-Bâri Syarh Shahih al-Bukhâri, Ibnu Hajar al-‘Asqalâni.
3. Muslim Syarh Nawawi. Tahqîq: Khalil Ma’mun Syiha, Dâr al-Ma’rifah, Cetakan III, 1417 H/1996M.
4. Syarh al-‘Aqîdah al-Wâsithhiyyah, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah, karya Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân, Maktabah
al-Ma’ârif, Riyadh, Cetakan VI, 1413 H/1993 M.
5. Tafsir Fathu al-Qadîr, Imam asy-Syaukâni (wafat 1250 H), Dâr al-Ma’rifah, Beirut, tauzî’ Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Lihat al-I’tishâm.
[2]. Sebagaimana dikemukakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah. Lihat Syarh al-Aqîdah al-Wâsithhiyah, karya Syaikh Shâlih bin
Fauzân al-Fauzân, hlm. 184.
[3]. Lihat Tafsir Fathu al-Qadîr, karya Imam asy-Syaukâni (wafat 1250 H), Dâr al-Ma’rifah, Beirut, tauzî’ Maktabah al-Ma’ârif, Riyâdh, tanpa tahun V/202, tentang Qs. al-Hasyr/59 ayat 10.
[4]. HR Bukhâri, Kitab al-I’tishâm bi al-Kitâb wa as-Sunnah, no. 7352 dan Muslim, Kitâb al-Aqdhiyah, Bab: Bayân Ajri al-Hâkim idza Ijtahada, no. 4462. II/239-240 – Syarh Nawâwi, Tahqîq: Khalîl Ma’mun Syiha.
[5]. Lihat Fathu al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, VII/519, hadits no. 4274, Kitab al-Maghâzî dan Muslim Syarh Nawawi, XVI/272-273, hadits no. 6351, Tahqîq: Khalil Ma’mun Syiha.
[6]. HR Bukhâri dan Muslim, dari hadits Ibnu Mas’ûd. Lihat Fathu al-Bâriy, Ibnu Hajar al-‘Asqalâni, V/259, hadits no. 2652, dan Shahîh Muslim Syarh Nawawi, XVI/302-303, hadits no. 6419, Tahqîq: Khalîl Ma’mûn Syiha.
[7]. HR Bukhâri, Kitab al-Mardhâ, no.5641 dan 5642. Muslim, Kitab al-Adab: al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, no. 6513, XVI/326 – Syarh Nawawi, Tahqîq: Khalil Ma’mun Syiha.

Artikel: http://almanhaj.or.id